Seperti yang diketahui, Terjadi kerusuhan di Mako Brimob yang terjadi pada Selasa, (8/5/18), sebanyak 155 napi dan tahanan teroris melakukan penyanderaan terhadap 9 anggota kepolisian. Lima anggota polisi tewas dibunuh, sementara empat anggota polisi lainnya luka-luka. Drama penyanderaan itu berlangsung selama 36 jam dan membuat kondisi Mako Brimob mencekam. Saat ini, para napi teroris itu telah dipindahkan penahanannya di Lapas Nusakambangan.
Lalu siapakah dalang atau provokator dari kerusuhan tersebut?
Seperti yang dikatakan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, Kerusuhan di Rumah Tahanan Mako Brimob dipicu oleh teriakan tahanan teroris bernama Wawan Kurniawan. Pasalnya, semua ini bermula saat keluarga Wawan membesuk dirinya dengan membawa makanan.
Namun, pengawal dari kepolisian melarang pemberian makanan itu dan Wawan marah.
Wawan memprovokasi tahanan lain untuk membuka paksa sel mereka, hingga terjadi insiden di Mako Brimob.
“Wawan itu terkait dengan kasus bom Pandawa (Taman Pandawa, Cicendo, Bandung),” ujar Setyo pada Rabu, 9 Mei 2018, tentang sosok provokator rusuh Mako Brimob itu.
Jejak Wawan ditemukan di lingkaran Yayat Cahdiyat. Pada 27 Februari 2017, Yayat Cahdiyat alias Dani alias Abu Salam mencoba meledakkan bom panci di Taman Pandawa, Cicendo, Bandung.
Bom dirakit menggunakan bahan peledak berjenis triacetone triperoxide (TATP). Berdasarkan catatan polisi, Yayat adalah murid Aman Abdurrahman, pendiri Tauhid Wal Jihad dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Setelah peledakan di Bandung, polisi memburu rekan-rekan Yayat. Salah satunya Wawan Kurniawan alias Abu Afif, yang sudah ditahan di Rumah Tahanan Mako Brimob.
Setyo menjelaskan, polisi mengirim empat anggota tim negosiator untuk berkomunikasi dengan tahanan dalam kerusuhan Selalu lalu. Tuntutan mereka adalah bertemu dengan pentolan JAD, yakni Aman Abdurrahman. Saat itu, Aman berada dalam ruang penahanan khusus. “Mereka juga sudah bertemu” tuturnya.
Pas bentrokan terjadi di Blok C, sedang dilakukan pemeriksaan terhadap tiga anggota kelompok teroris JAD yang ditangkap saat merakit bom berjenis TATP dan berencana melakukan bom bunuh diri di beberapa kantor polisi di Bogor, Jawa Barat.
Mereka adalah M. Mulyadi, Abid Faqihuddin, dan Anang Rachman alias Abu Arumi. “Lokasi pemeriksaan Densus bersampingan dengan Blok C.”
Menurut Setyo, Wawan bukan pemimpin tahanan teroris. Ia hanya pemicu awal kerusuhan di Mako Brimob. Dia yang pertama memprovokasi kerusuhan. “Perlu pendalaman lagi kalau motif teriakan Wawan berhubungan dengan pemeriksaan tiga anggota JAD,” tuturnya.
Sementara itu, saat ini Wawan Kurniawan alias Abu Afif (42) menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.
Kepala Instalasi Forensik RS Polri Komisaris Besar Edi Purnomo mengatakan, Wawan Kurniawan alias Abu Afif, masih menjalani perawatan di RS Polri Kramatjati. “Abu Afif itu masih dirawat di forensik,” ujar Edi, Jumat, (11/5/18).
Menurut Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Polri Yayok Witarto, Wawan menderita luka pada bahu kiri. Namun dia tak merinci seberapa parah luka Wawan itu. “Pokoknya ada luka, nanti ada penjelasan lebih rinci,” katanya.
Untuk menyembuhkan luka itu, kata Yayok, Wawan mendapat penanganan dari dokter bedah umum dan dokter bedah ortopedi. “Saat ini kondisinya relatif baik,” ucapnya.



Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengajak kepada seluruh komponen masyarakat Sulut, baik antar sesama pemerintah maupun masyarakat untuk tetap bersinergi dan tetap menjaga toleransi bersama dalam membangun Sulut lebih baik lagi.

