Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Saturday, 29 December 2018

‘Kami Takut Laut’: Pengungsi Tsunami Selat Sunda Berlindung di Gunung

‘Kami Takut Laut’: Pengungsi Tsunami Selat Sunda Berlindung di Gunung

Penduduk desa di Lampung Selatan mendirikan kemah darurat di lereng gunung, khawatir tsunami akan menghantam rumah mereka lagi. Tsunami yang dahsyat melanda Provinsi Banten dan Lampung di Indonesia pada Sabtu (22/12) malam, menewaskan sedikitnya 430 orang. Letusan gunung berapi Anak Krakatau di Selat Sunda secara luas dianggap sebagai penyebab gelombang besar tersebut.
Oleh: Aisyah Llewellyn (Al Jazeera)
Maskah terbangun pada Sabtu (22/12) malam karena suara perahu kayu pecah di luar rumahnya, di Desa Sukaraja di Lampung Selatan.
“Saya tahu itu adalah tsunami, jadi saya berlari ke jalan di sebelah rumah saya dan melarikan diri ke pegunungan,” Maskah—yang seperti banyak orang Indonesia hanya menggunakan satu nama—mengatakan kepada Al Jazeera. “Saya tidak membawa apa-apa, hanya pakaian yang saya pakai.”
Penduduk desa lainnya mengikuti Maskah, banyak yang membawa anak kecil. Mereka berjalan lebih dari satu setengah kilometer menyusuri jalan berlumpur di Gunung Rajabasa, menuju tanah terbuka sebagian yang disebut Kebun Damos.
Keluarga itu menghabiskan malam meringkuk bersama di bawah pohon dan tidur di atas daun pisang. “Hujan deras dan kami semua basah kuyup,” kata Maskah (39 tahun).
Tsunami yang dahsyat melanda Provinsi Banten dan Lampung di Indonesia pada Sabtu (22/12) malam, menewaskan sedikitnya 430 orang. Letusan gunung berapi Anak Krakatau di Selat Sunda secara luas dianggap sebagai penyebab gelombang besar tersebut.
Sekitar 16 ribu orang kini mengungsi, termasuk banyak penduduk dari Desa Sukaraja, yang tinggal dekat dengan garis pantai. Sebagian besar dari mereka takut pulang, khawatir tsunami akan menghantam desa mereka lagi.

TAKUT AKAN SERANGAN GELOMBANG LAIN

Pagi hari setelah tsunami, Maskah dan keluarga lainnya kembali ke rumah mereka untuk mengumpulkan pakaian dan barang-barang pribadi lainnya, sebelum kembali untuk menyelamatkan diri di lereng gunung.
Mereka takut Anak Krakatau akan meletus lagi dan terlalu trauma untuk pulang. “Suara yang terdengar di kejauhan bukanlah guntur,” kata Ruminah (32 tahun), juga dari Desa Sukaraja.
“Ini gunung berapi yang bergemuruh dan semakin keras. Anak Krakatau masih aktif, jadi kami harus waspada.”
Makanan langka di kamp sementara, dan sampai hari Rabu (26/12), penduduk masih belum menerima bantuan yang memadai dari pemerintah.
Hingga lima keluarga tidur di tenda-tenda yang dibangun oleh penduduk desa menggunakan terpal dan kelambu.
“Di malam hari, kami tidak bisa tidur,” kata Ruminah. “Kami khawatir tentang ular dan laba-laba. Tadi malam, seekor kelabang besar masuk ke dalam tenda kami. Dan itu sangat dingin.”
Para keluarga itu mengatakan bahwa mereka meminta pemerintah untuk mengirimkan tenda yang layak serta selimut dan peralatan memasak. Saat ini, mereka membuat api dari kayu yang ditemukan di hutan untuk menyiapkan makanan mereka.
Walau warga dan badan amal setempat lainnya telah menyumbangkan kerupuk, mie instan, dan air, namun persediaan tidak cukup untuk memberi makan kelompok yang terdiri lebih dari 100 orang di kamp tersebut.
Sementara itu, keluarga yang kehilangan tempat tinggal telah mencoba untuk melengkapi makanan mereka dengan makanan yang diambil dari hutan di sekitarnya, termasuk pisang yang tidak matang yang mereka rebus agar dapat dimakan.
Makanan langka di kamp sementara ini, dan hanya ada sedikit bantuan pemerintah. (Foto: Al Jazeera/Teguh Harahap)

KESULITAN DALAM MEMBERIKAN BANTUAN

Seperti penduduk desa lainnya, Maskah dan Ruminah sangat kritis terhadap respons pemerintah terhadap bencana ini. Mereka mengatakan bahwa pemerintah “mengecewakan”, karena bantuan belum menjangkau mereka.
Pada Rabu (26/12), Jarco—seorang perwakilan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), sebuah organisasi pemerintah non-struktural yang melapor kepada presiden—tiba di Kebun Damos untuk melakukan penilaian terhadap kebutuhan penduduk yang mengungsi.
Dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa respons pemerintah yang lamban adalah karena kesulitan logistik untuk memberikan bantuan ke daerah-daerah terpencil tersebut.
“Aksesnya sulit. Kami telah menawarkan warga kesempatan untuk berlindung di gedung sekolah menengah setempat, tetapi mereka tidak mau,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia berharap tenda akan tiba di kamp tersebut pada Rabu (26/12) sore.
Sementara itu, warga lain telah berusaha mengisi kekosongan ini.
Hari Purnomo, seorang warga dari desa tetangga Rajabasa, sedang mengoordinasikan respons lokal terhadap para penduduk desa yang mengungsi, sementara mereka menunggu bantuan pemerintah tiba.
Selain kamp di Kebun Damos, ada beberapa kamp pengungsi lainnya dari desa-desa lain yang tersebar di sekitar Gunung Rajabasa.
Purnomo telah mengumpulkan sumbangan untuk dibawa ke kamp-kamp tersebut. Dia mengatakan bahwa pemerintah lokal hanya fokus pada distribusi bantuan di sepanjang pantai, sementara daerah yang lebih jauh ke pedalaman, telah ditinggalkan.
Menurut Purnomo, sulit untuk memberikan bantuan kepada sekelompok lebih dari 1.000 orang dari wilayah pesisir di Lampung Selatan, yang telah mengungsi lebih jauh ke pedalaman di sepanjang lereng gunung.
“Saya sudah mencoba untuk berbicara dengan mereka dan meminta mereka untuk turun sedikit dari gunung,” katanya kepada Al Jazeera.
“Sangat sulit bagi kami untuk membantu mereka dan membawa makanan atau persediaan lain karena tidak ada jalan di sini. Kami harus datang dengan sepeda motor dan kemudian berjalan kaki.”

DAERAH PEDALAMAN SULIT DIJANGKAU

Otoritas setempat yang memberikan bantuan medis juga berusaha mengatasi hambatan serupa.
Minak Wardan, sekretaris klinik kesehatan pusat di Kabupaten Rajabasa—yang mencakup Desa Sukaraja—mengatakan bahwa otoritas kesehatan telah mendirikan serangkaian klinik keliling yang telah masuk ke daerah pegunungan untuk mendistribusikan obat-obatan.
Meskipun telah melakukan tiga perjalanan sejak tsunami, namun klinik-klinik tersebut belum dapat mencapai semua kamp karena kesulitan dalam mendapatkan akses.
Seperti Purnomo, Wardan telah mencoba berunding dengan warga. “Saya sudah berbicara dengan mereka dan meminta mereka untuk mempertimbangkan untuk turun, tetapi mereka tidak mau,” dia menjelaskan kepada Al Jazeera. “Mereka trauma.”
Maskah dan Ruminah tidak punya rencana untuk kembali ke rumah mereka di Desa Sukaraja. Mereka mengatakan akan tetap berada di hutan sampai ancaman meletusnya Anak Krakatau yang memicu tsunami mematikan lainnya, sudah tidak ada lagi.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) Dwikorita Karnawati, telah meminta orang-orang untuk menghindari daerah pantai karena cuaca badai dan ombak tinggi terus menjangkiti daerah tersebut.
“Semua kondisi ini berpotensi menyebabkan tanah longsor di tebing kawah ke laut, dan kami khawatir hal itu dapat memicu tsunami,” katanya.
Sebelas warga dari Desa Sukaraja hilang dan diduga meninggal. Penduduk yang mengungsi merasa bahwa kemungkinan terjadinya erupsi dan tsunami lain sangatlah tinggi.
“Petir di sekitar gunung berapi semakin buruk,” kata Maskah. “Di sini dingin dan berangin, tapi kami tidak ingin pulang. Kami takut laut.”

No comments:

Post a Comment