Banjir bandang yang terjadi di Sentani, Papua, telah memakan 79 korban jiwa. Namun, seorang bayi berusia lima bulan ditemukan di tengah puing-puing di dalam sebuah rumah di mana ibu dan saudara-saudaranya ditemukan tewas hari Minggu, 17 Maret 2019. Bayi korban banjir Papua itu kini telah berhasil dikembalikan ke ayahnya dan berada dalam kondisi stabil.
Oleh: South China Morning Post
Seorang bayi, yang terperangkap di bawah puing-puing setelah banjir bandang menghancurkan rumahnya, akhirnya dipertemukan kembali dengan ayahnya, setelah bencana itu menewaskan seluruh anggota keluarga mereka, menurut para pejabat hari Senin (18/3), ketika jumlah korban tewas mencapai 79 jiwa. Bayi berusia lima bulan itu ditemukan di tengah puing-puing di dalam rumahnya, di mana ibu dan saudara-saudaranya ditemukan tewas hari Minggu (17/3) di Kota
Sentani.
“Kami membawa bayi itu ke rumah sakit dan mereka merawatnya di sana,” kata juru bicara militer Papua Muhammad Aidi. “Dia kini dalam kondisi stabil dan telah selesai dirawat. Ayah bayi itu tertekan tetapi senang bisa dipertemukan kembali dengan bayi.
Mobil-mobil terendam lumpur setelah banjir bandang di Sentani, Papua. (Foto: Reuters)
Berita banjir tersebut datang ketika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia meningkatkan jumlah kematian resmi dari 58 korban jiwa hari Minggu (17/3), dengan lebih dari tiga lusin orang masih hilang hingga kini. Militer Indonesia melakukan tugas suram untuk memasukkan jenazah korban yang berlumur lumpur ke dalam kantong mayat, setelah banjir bandang dan tanah longsor menghancurkan daerah tersebut. Puluhan orang telah terluka dalam bencana yang dipicu oleh hujan lebat hari Sabtu (16/3).
“Jumlah korban tewas masih bisa meningkay,” kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Tim penyelamat telah berjuang melawan arus lumpur, batu, dan pohon tumbang untuk mencari dan mengevakuasi korban, ketika petugas medis merawat korban yang terluka di tenda darurat. “Orang-orang membutuhkan makanan, selimut, pakaian bersih, dan air bersih,” kata Nugroho.
Tampak atas dari daerah yang terkena dampak banjir di Sentani. (Foto: AP)
Di Doyo, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak banjir, sebuah kompleks perumahan berserakan dengan batu-batu besar yang diyakini telah berguguran dari gunung di dekatnya, sementara endapan lumpur dan sampah menumpuk di trotoar.
Militer mengatakan bahwa 5.700 orang telah dievakuasi dari daerah yang paling parah terdampak bencana. “Kami memiliki lebih dari 1.000 personel yang berupaya mencari lebih banyak korban,” kata Aidi.
Indonesia yang rawan bencana telah mengeluarkan peringatan darurat selama 14 hari dalam menanggapi banjir. Banjir biasa terjadi di Indonesia, terutama selama musim hujan, yang berlangsung dari bulan Oktober hingga April. Bulan Januari 2019, banjir dan tanah longsor telah menewaskan sedikitnya 70 orang di Sulawesi. Sementara itu, awal bulan Maret 2019, ratusan warga di Provinsi Jawa Barat terpaksa dievakuasi ketika hujan lebat memicu banjir dahsyat.

Tim penyelamat mengangkut jenazah warga Malaysia yang tewas dalam tanah longsor di Lombok Utara, hari Minggu, 17 Maret 2019. Foto: EPA
Sementara itu, tiga orang tewas, termasuk dua turis asal Malaysia, dan sekitar 182 orang lainnya mengalami cedera setelah gempa bumi hari Minggu (17/3) memicu tanah longsor di Lombok. Gempa berkekuatan 5,5 skala Richter ini diperkirakan telah menyebabkan tanah longsor di air terjun Tiu Kelep di utara pulau. Lombok telah diguncang oleh beberapa gempa bumi musim tahun 2018, menewaskan lebih dari 500 orang dan menyebabkan lebih dari 150.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Bulan September 2018, Indonesia dilanda bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi, menewaskan sekitar 2.200 orang.
Indonesia adalah salah satu negara paling rawan terkena bencana di Bumi, yang terbentang di Cincin Api Pasifik, di mana lempeng tektonik saling bertabrakan. Akibatnya, sering terjadi bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Keterangan foto utama: Penduduk Papua membawa barang-barang mereka saat mengarungi banjir di Sentani, Jayapura, Provinsi Papua. (Foto: EPA)