Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Thursday, 7 December 2017

Profil desa Tonsea Lama, membangun desa agraris

Dibandingkan dengan desa-desa lain, Maka luas wilayah Desa Tonsealama termasuk sangat besar. Menurut penuturan dari Tokoh-tokoh masyarakat pada beberapa periode yang lalu bahwa ketika terbentuk, Desa Tonsealama  memiliki luas wilayah sebesar  7 BAHU, Yaitu satuan ukuran luas yang digunakan hingga jaman penjajahan Belanda. Satu Bahu setara dengan 500 Ha, Sehingga total wilayah Desa ini adalah 7x500 Ha yaitu 3500 Ha. Wilayah sebesar itu pada awalnya merupakan areal perburuan hewan liar oleh Suku Tonsea yang mendirikan desa ini. Ketika itu wilayah Minahasa bagian utara belum ada pemukiman, Sebab konsentrasi pemukiman orang Minahasa masih berputar-putar di Minahasa selatan dan Tengah.
Desa tonsealama digolongkan sebagai desa Agraris,sebab sebahagian besar wilayah desa ini berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian  untuk beraneka ragam komoditi. Sebagai desa agraris maka selayaknyalah dilapangan bahwa hal itu sangat sulit  diwujudkan, karena minat masyarakat untuk menekuni bidang pertanian, Terutama dari generasi  muda sangat memprihatinkan. Catatan yang ada tentang Statistik ketenagakerjaan desa kita menyebutkan bahwa jumlah petani di Tonsealama tinggal 10% dari jumlah penduduk. Itupunbukan petani sejati, tetapi sebagai pekerjaan sampingan. Sebagai akibat dari kondisi seperti itu, maka secara kasat mata dapat kita lihat pada areal pertanian yang  ada di desa ini, dimana sebagian besar lahan pertanian kita tidak lagi diolah da di tumbuhi rumput liar. Sebagai contoh bahwa hingga awal dasa warsa 1980-an lahan pertanian disisi kiri dan kanan jalan raya antara desa tonsealama dan tanggari (Perkebunan Taskela) saat itu didominasi oleh warna kecoklatan yang  menandakan bahwa lahan tersebut  sedang diolah dan ditanami berbagai jenis tanaman pangan. Sekarang ini pemendangan seperti itu tidak terlihan lagi sebab pemiliknya tidak lagi mengolahnya sehingga warnanya menjadi hijau pekat tanpa celah karena ditutupi gulma. Pemandangan yang sama juga terjadi pada areal pertanian disepanjang bantaran sungai marawas. Dulunya areal tersebut ditanami berbagai tanaman pangan, tetapi sekarang ini nasibnya tidak berbeda dengan lahan pertanian di wilayah taskela.
Lalu mengapa warga desa ini tidak lagi tertarik untuk bertani? Jawabanya memang beraneka ragam, tetapi alasan yang paling umum bahwa generasi muda kita tidak lagi terbiasa bertani, Profesi bertani di anggap sebagai pekerjaan kasar yang identik dengan teriknya matahari dan dinginnya hujan lebat, dan banyak lagi alasan lainya. Maka petani di tonsealamaUsianya rata-rata diatas 55 Tahun.
            Terlepas dari benar tidaknya alas an tersebut, tetapi fakta lainya membuktikan bahwa petani didesa lain didaerah kita ini senantiasa senantiasa menikmati manisnya memanen BARITO (Bawang,Rica,Tomat) Hasil keringatnya sendiri. Mereka menepis Mitos yang mengidentikan Petani dengan kemiskinan. Buktinya mereka pada umumnya memiliki Mobil angkutan milik sendiri, dan tentunya rumah tinggal .Apa resep yang mereka terapkan sehingga mereka setia pada profesi bertani dan menggapai Sukses? Mari kita simak fakta dibawah ini.
                Menanam Cabe. Setiap pohon cabe memerlukan lahan seluas 1x1Meter setiap Pohon cabe yang mendapat perlakuan baik dan benar akan menghasilkan buah sebanyak 1kg. Harga 1kg cabe berfluktuasi antara Rp. 30.000 - Rp. 90.000 . Apabila kita mengolah 1Ha tanaman cabe, didalamnya dapat ditanam 10.000 pohon cabe, dan menghasilkan 10.000kg buah  cabecabe…………...
     Kita menhitung harga terendah Rp 30.000/kg, maka hasilnya adalah 10.000 kg dikali Rp 30.000  maka akhir adalah Rp 300.000.000 (Tiga Ratus Juta Rupiah) hasil tersebut di peroleh dalam waktu empat bulah setelah benih disemaikan.
     Anda hanya memiliki 0,3 Ha ? Tidak masalah, lahan seluas itu jika di tekuni masih menghasilkan  Rp 100.000.000. Pengalaman bahwa harga cabe bisa mencapai  harga diatas Rp. 100.000 /kg.
Potensi wisata dibidang seni budaya yang ada di desa Tonsealama sangat menjanjikan untuk di kembangkan dan diangkat kepermukaan karena Desa Tonsealama adalah Pusat kebudayaan Suku Tonsea, yang juga berati seni budaya Tonsea meliputi kepentingan ratusan ribu orang.
      Di bidang kebudayaan, Seni Budaya yang ada di desa Tonsealama sebenarnya memiliki reputasi yang membanggakan sebab dimasa kejayaannya di era 1930-an hingga 1950-an Tumpukan Maengket “LILLY ROYOR” dan tari Kabasaran desa Tonsealam Sering Kali Meraih predikat juara dalam setiap Lomba yang diikutinya di segala tingkatan
                Maka mengangkat Kembali Kejayaan Seni Budaya tonsea Diperlukan Komitmen dari masyarakat dan pemerintah untuk mengalokasikan dana untuk kepentingan Tersebut.








No comments:

Post a Comment