Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Tuesday, 13 November 2018

Tak Ada Tempat yang Aman untuk Rizieq Shihab

Rizieq Shihab

Keputusan pemimpin Front Pembela Islam, Rizieq Shihab untuk mengasingkan diri keluar negeri, masih belum membuatnya aman. Awal November lalu Rizieq dipanggil oleh pemerintah Arab Saudi–tempat tinggalnya saat ini–karena memasang bendera yang menyerupai bendera-bendera para teroris. Rizieq Shihab meninggalkan Indonesia bulan Mei tahun lalu.
Oleh: John McBeth (Asia Times)
Tahun ini adalah tahun kedua Rizieq Shihab, pendiri Front Pembela Islam (FPI), mengasingkan diri ke Arab Saudi, melarikan diri dari dakwaan pornografi dan dakwaan kriminal lainnya di Indonesia. Tampaknya di negara aman barunya itu, dia masih tidak bisa melakukan apa yang dia suka.
Pada awal November, pemerintah Saudi menahan ulama berusia 53 tahun itu karena diduga memasang bendera yang menyerupai bendera Negara Islam (ISIS) di kediamannya di Mekah.
Pemerintah Indonesia menyangkal tuduhan bahwa pemasangan bendera itu adalah ulah operasi intelijen hitam yang dirancang untuk mempermalukan pemimpin FPI tersebut, yang mendukung kandidat oposisi Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden April mendatang.
Masalah Shihab tidak berakhir di sana. Selain pembatasan yang diberlakukan untuk kegiatannya di Arab Saudi, pejabat kementerian luar negeri Indonesia mengatakan ia juga telah melewati masa berlaku visanya, yang berakhir pada 20 Juli.
Setiap warga negara asing yang ingin memperpanjang masa tinggal mereka diharuskan untuk meninggalkan negara itu sebelumnya, tetapi pihak berwenang Saudi telah memperumit masalah ini dengan tidak mengizinkan rencana penerbangannya ke Malaysia pada tiga kesempatan terpisah pada bulan Juli.
Pemasangan bendera itu tampaknya terkait dengan seruan Shihab untuk semua cabang FPI untuk memasang bendera-bendera yang bertuliskan kalimat shahadah, deklarasi keimanan Muslim, setelah para anggota organisasi arus utama Nahdlatul Ulama (NU) membakar bendera yang juga merupakan bendera organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Garut, Jawa Barat, pada 22 Oktober.
Para pengunjuk rasa saat demonstrasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk mendukung para ulama Indonesia termasuk Rizieq Shihab di Jakarta, 5 Februari 2017. (Foto: Adek Berry)
Sebagai salah satu organisasi ekstremis di dunia yang benderanya mirip dengan yang dikibarkan oleh ISIS, Al-Qaeda, dan Boko Haram, HTI secara resmi dilarang di Indonesia di bawah keputusan presiden yang dikeluarkan pada bulan Juli 2017, yang mencap organisasi itu sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Ini adalah pertama kalinya pemerintah mengambil tindakan tegas semacam itu sejak kelahiran demokrasi di akhir tahun 1990-an. Tetapi para kritikus telah lama mengeluh bahwa mengabaikan bahaya hasutan yang terinspirasi oleh agama adalah alasan ekstremisme dan intoleransi telah berkembang ke tingkat yang berbahaya.
Hizbut Tahrir dianggap sebagai ancaman karena mendukung pembentukan kekhalifahan Islam yang membentang dari Maroko ke pulau Mindanao di Filipina selatan yang akan merebut kekuasaan pemerintah yang berdaulat. Organisasi-organisasi semacam itu sudah dilarang di sebagian besar negara-negara Arab.
Membubarkan FPI akan jauh lebih sulit, meskipun kelompok itu telah lama terlibat dalam serangan terhadap kelompok minoritas dan tempat-tempat ibadah mereka dan di tempat-tempat hiburan yang mereka anggap sebagai “tak bermoral” selama 15 tahun terakhir.
Rizieq, pengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan telah lama mendukung Prabowo, yang bulan lalu menandatangani pakta integritas dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), sebuah koalisi konservatif yang menentang terpilihnya kembali Jokowi.
Calon Presiden, Prabowo Subianto di Jakarta, 10 Agustus 2018. (Foto: Andalou/AFP/Eko Siswono Toyudho)
Dua anggota sayap pemuda paramiliter NU dipenjara selama 10 hari karena melakukan pembakaran bendera pada 25 Oktober di Garut, kendati ada demonstrasi oleh kelompok-kelompok ekstremis di seluruh negeri yang menyerukan agar para pria itu dituntut atas penistaan agama.
Tetapi kegagalan demonstrasi untuk menggandeng massa merupakan indikasi bahwa komunitas Muslim pada umumnya memiliki sedikit keinginan untuk menciptakan kehebohan yang memecah belah seperti yang menggulingkan Gubernur Jakarta Basuki “Ahok” Purnama tahun lalu.
Memang, kontroversi pemilihan Ma’ruf Amin sebagai pasangan Jokowi tampaknya telah menghapus populisme agama sebagai faktor utama dalam kampanye untuk pemilihan presiden bulan April mendatang.
Tanpa Rizieq di garis depan, banyak sengatan telah hilang dari FPI dan koalisi konservatif yang mendominasi panggung politik selama bertahun-tahun terakhir dan jelas telah mengkhawatirkan Jokowi.
Rizieq melarikan diri dari Indonesia pada bulan Mei tahun lalu setelah dituduh melanggar UU Anti-Pornografi 2008 setelah bertukar pesan teks seksual eksplisit dengan seorang wanita yang bukan istrinya—tuduhan yang sebelumnya membuat bintang pop Nazril Irham (Ariel NOAH), menjalani hukuman tiga tahun penjara.
Rizieq Shihad berdoa. (Foto: Twitter)
Pemimpin FPI mengklaim bahwa tuduhan itu bermotif politik, tetapi meskipun polisi telah membatalkan kasus tersebut Juni lalu, dengan alasan kurangnya bukti, Rizieq menolak untuk pulang, dengan mengatakan bahwa demokrasi Indonesia “lebih berbahaya daripada daging babi.”
Itu karena dia masih menghadapi dua kasus lain yang tertunda, salah satunya melibatkan klaim palsunya bahwa desain dari uang rupiah Indonesia yang baru berisi simbol-simbol komunis yang tersembunyi, dan kasus yang lainnya adalah penistaan terhadap agama Kristen dalam salah satu khotbahnya.
Meskipun ia belum ditetapkan sebagai tersangka dalam salah satu dari dua kasus tersebut, ia tetap berpotensi untuk didakwa. Bahkan kasus pornografinya dapat diangkat kembali jika penyidik ​​dapat menemukan saksi kunci yang mengunggah materi ofensif itu di Internet.
Rizieq, yang merupakan keturunan Arab-Indonesia dan pernah belajar di King Saud University Arab Saudi, mendirikan FPI pada bulan Agustus 1998, kurang dari tiga bulan setelah jatuhnya Presiden Suharto, yang telah mengekang ketat aktivisme Muslim untuk sebagian besar pemerintahannya selama 32 tahun.
Rizieq, yang tampak tak tersentuh hingga saat itu, telah menjadi sasaran setelah memimpin protes massa melawan Ahok, yang kemudian gagal dalam upayanya untuk terpilih kembali sebagai gubernur dan kemudian dipenjarakan selama dua tahun atas tuduhan penistaan agama.
Mantan gubernur itu mungkin tidak terlihat di balik terali besi, tetapi seperti Rizieq, dia belum terlupakan dari benak kebanyakan orang. Akhir pekan lalu merupakan pemutaran perdana “A Man Called Ahok,” sebuah film yang didasarkan pada tahun-tahun awal Ahok menjadi gubernur Belitung. Film itu menyampaikan beberapa pesan, tetapi tidak lebih dari menggambarkan usahanya di kehidupan publik.
Keterangan foto utama: Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ketika dia menyampaikan pidato kepada para pendukungnya di dalam ruang sidang di Jakarta. (Foto: AFP/Adek Berry)

No comments:

Post a Comment