Novel ini menjadi perhatian serius bagi petinggi militer Amerika Serikat. Pensiunan Laksamana James G Stavridis menyebut buku ini sebagai blue print untuk memahami peperangan di masa depan. Stavridis, yang kini menjabat sebagai dekan di fakultas Hubungan Internasional Tufts University, mewajibkan pimpinan militer untuk membaca novel tersebut.Ghost Fleet sendiri lebih banyak menggambarkan perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030 ketimbang sebab musabab Indonesia tidak lagi eksis.Singer menggambarkan situasi perang modern ketika pesawat tanpa awak (drone) mendominasi angkatan udara kedua belah pihak. Perang juga melanda sistem informasi tingkat tinggi, dan cakupannya bukan hanya peretasan situs internet, melainkan satelit yang memantau bagian permukaan bumi.Singer juga menceritakan China yang mengalami kemajuan pesat. Di samping lebih kaya dari AS, China juga mampu menciptakan persenjataan yang sangat canggih. Kelompok komunis China pun digambarkan sudah tidak memiliki pengaruh dan telah usang. China dipimpin oleh kelompok baru yang disebut sebagai Directorate. Directorate merupakan elit gabungan antara kelas pengusaha kelas kakap dan para pimpinan tentara. Kelompok ini menggantikan pemimpin partai komunis yang segera dilupakan.
MEDIA BERITA LOKAL, NASIONAL, DAN INTERNASIONAL BESERTA INFO RINGAN LAINNYA.
Adsense
TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN
Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.
Thursday, 22 March 2018
Novel Ghost Fleet, Rujukan Indonesia Bubar 2030 versi Prabowo
Pernyataan Indonesia bubar di tahun 2030 ternyata bukan sekali dinyatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Selain dalam pidato dalam acara "Konferensi Nasional dan Temu Kader", Prabowo juga pernah menyebut Indonesia Bubar di 2030 dalam acara bedah buku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada 18 September 2017 lalu.Dalam rekaman video yang diunggah akun Gerindra TV di Youtube, Prabowo mengatakan dalam novel berjudul Ghost Fleet yang ditulis dua ahli strategi Amerika Serikat, digambarkan sebuah perang antara Amerika Serikat melawan China di tahun 2030.Menurut Prabowo, dalam buku tersebut tertulis, Republik Indonesia di tahun 2030 sudah tidak ada lagi.
"Ghost Fleet ini novel, tapi ditulis dua ahli strategi dari Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari sini bagi kita hanya satu. Mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi," kata Prabowo.Novel fiksi Ghost Fleet sendiri merupakan karya dari pengamat politik dan kebijakan ternama asal Amerika Serikat, Peter Warren Singer dan August Cole. Judul asli novel tersebut adalahGhost Fleet: a Novel of The Next World War. Terbit pertama kali di Amerika Serikat pada 2015 lalu dengan lebih dari 400 halaman.
Novel ini menjadi perhatian serius bagi petinggi militer Amerika Serikat. Pensiunan Laksamana James G Stavridis menyebut buku ini sebagai blue print untuk memahami peperangan di masa depan. Stavridis, yang kini menjabat sebagai dekan di fakultas Hubungan Internasional Tufts University, mewajibkan pimpinan militer untuk membaca novel tersebut.Ghost Fleet sendiri lebih banyak menggambarkan perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030 ketimbang sebab musabab Indonesia tidak lagi eksis.Singer menggambarkan situasi perang modern ketika pesawat tanpa awak (drone) mendominasi angkatan udara kedua belah pihak. Perang juga melanda sistem informasi tingkat tinggi, dan cakupannya bukan hanya peretasan situs internet, melainkan satelit yang memantau bagian permukaan bumi.Singer juga menceritakan China yang mengalami kemajuan pesat. Di samping lebih kaya dari AS, China juga mampu menciptakan persenjataan yang sangat canggih. Kelompok komunis China pun digambarkan sudah tidak memiliki pengaruh dan telah usang. China dipimpin oleh kelompok baru yang disebut sebagai Directorate. Directorate merupakan elit gabungan antara kelas pengusaha kelas kakap dan para pimpinan tentara. Kelompok ini menggantikan pemimpin partai komunis yang segera dilupakan.
Novel ini menjadi perhatian serius bagi petinggi militer Amerika Serikat. Pensiunan Laksamana James G Stavridis menyebut buku ini sebagai blue print untuk memahami peperangan di masa depan. Stavridis, yang kini menjabat sebagai dekan di fakultas Hubungan Internasional Tufts University, mewajibkan pimpinan militer untuk membaca novel tersebut.Ghost Fleet sendiri lebih banyak menggambarkan perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030 ketimbang sebab musabab Indonesia tidak lagi eksis.Singer menggambarkan situasi perang modern ketika pesawat tanpa awak (drone) mendominasi angkatan udara kedua belah pihak. Perang juga melanda sistem informasi tingkat tinggi, dan cakupannya bukan hanya peretasan situs internet, melainkan satelit yang memantau bagian permukaan bumi.Singer juga menceritakan China yang mengalami kemajuan pesat. Di samping lebih kaya dari AS, China juga mampu menciptakan persenjataan yang sangat canggih. Kelompok komunis China pun digambarkan sudah tidak memiliki pengaruh dan telah usang. China dipimpin oleh kelompok baru yang disebut sebagai Directorate. Directorate merupakan elit gabungan antara kelas pengusaha kelas kakap dan para pimpinan tentara. Kelompok ini menggantikan pemimpin partai komunis yang segera dilupakan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment