Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, 31 October 2018

Gubernur Olly Berikan Piagam Penghargaan Pada Tim Tagana

Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, SE mengapresiasi kepulangan Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) usai melakukan tugasnya di daerah bencana Palu, Donggala Sulawesi Tengah.
Dalam pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Gubernur, Selasa (30/10/2018) siang, Olly juga menyerahkan sertifikat penghargaan kepada perwakilan Tim Tagana atas pengabdiannya di daerah bencana tersebut.
Penyerahan piagam yang juga disaksikan Sekda Prov. Sulut Edwin Silangen bersama Kadis Sosial Rinny Tamuntuan itu sebagai bentuk apresiasi dan rasa bangga Olly atas perjuangan tim relawan yang membantu proses pemulihan pascagempa dan tsunami.
Untuk diketahui, sejak awal Oktober Tim Tagana dan staf Dinas Sosial berada di Palu dan Donggala untuk melaksanakan beberapa tugas kemanusiaan.
Di antaranya melayani pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, melakukan pendampingan dan layanan dukungan psikososial, perlindungan sosial pada kelompok-kelompok rentan yaitu lansia, anak-anak, ibu hamil dan penyandang disabilitas serta melakukan evakuasi korban apabila dibutuhkan oleh instansi terkait.
Selain bantuan logistik, Tim Tagana dan Dinas Sosial juga membawa peralatan seperti mobil rescue taktis, tenda mobil dapur umum lapangan lengkap dengan peralatan di dalamnya, truk serbaguna, serta genset dan lainnya. (Humas Pemprov Sulut)

Naik Traktor, Gubernur Olly Meriahkan Pawai Dalam Rangka HUT Minahasa ke-590

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey turut ambil bagian memeriahkan pawai pembangunan dalam rangka HUT Kabupaten Minahasa ke 590. Dengan Menaiki traktor dan mengemudikan sendiri, Gubernur Olly ikut dalam rangkaian pawai yang mengelilingi kota Tondano. Secara perlahan Gubernur Olly menjalankan traktor yang dihiasi hasil pertanian lokal, Gubernur menyapa warga Minahasa yang menyaksikan pawai tersebut serta sekali-kali mengajak foto Selfie bersama masyarakat.
Pawai Pembangunan dalam rangka HUT Ke-590, serta Kirab Marching Band Taruna Akademi TNI Angkatan Laut mengambil start di depan Lapangan God Bless Tondano Kabupaten Minahasa,(30/10).
Berbagai peserta ikut ambil bagian dalam pawai tersebut mulai dari siswa siswi hingga Kirab Marching Band Taruna Akademi TNI Angkatan Laut.
Dalam sambutan arahan, Gubernur Olly menyampaikan bahwa setiap daerah di Provinsi Sulawesi Utara memiliki potensi sumber daya alam, baik di sektor perikanan dan kelautan, energi terbarukan, pertanian dan perkebunan maupun pariwisata.
"Setiap daerah ini harus mengelola dan memanfaatkan secara optimal potensi yang ada, untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan bersama," ujar Gubernur.
Pawai pembangunan ini sangat tepat untuk memperkenalkan produk-produk unggulan hasil pertanian, perkebunan dan lain sebagainya yang ada di Kabupaten Minahasa sekaligus membuka peluang investasi serta memperluas jaringan pemasaran produk-produk unggulan daerah, seiring dengan upaya untuk menjadikan Sulawesi Utara sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata di Indonesia.
Pada kegiatan yang sama Bupati Minahasa Ir. Roy O. Roring, M.Si menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka mensukseskan HUT Ke-590 kabupaten Minahasa pada tanggal 5 November 2018.
Adapun beberapa program prioritas yang sudah dilaksanakan diantaranya BPJS 100%, pemberian dana duka sebesar Rp. 2.500.000 dengan catatan diserahkan sebelum ibadah pemakaman, dan untuk setiap ada pencatatan sipil akan langsung diserahkan kartu keluarga dan KTP yang baru bagi mempelai Pria dan Wanita.
Turut hadir, Sekretaris Daerah Edwin Silangen, Wakil Bupati Minahasa Robby Dondokambey, S.Si, Sekretaris Daerah Minahasa Jefry Korengkeng, Danlantamal VIII manado Laksma TNI Gig Jonias Mozes Sipasultra, Komandan KRI Bimasuci Letkol Laut Pelaut Barunoaji.(humas provinsi sulut)

Tatap Muka Dengan Guru SMA,SMK, SLB se Sulut, Gubernur Olly Tegaskan Guru Perlu Lompatan, Bukan Sekedar Peningkatan

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, melakukan tatap muka dengan para Kepala Sekolah (Kepsek) SMA, SMK dan SLB se Sulut di Ruang CJ Rantung Kantor Gubernur, Rabu (31/10/18).
Dalam kesempatan itu Gubernur Olly mengungkapkan kegusarannya atas kondisi dunia pendidikan Sulut yang dianggap masih kurang dari yang diharapkan.
"Pagi ini saya ikut memantau pelaksanaan tes CPNS Pemprov Sulut pada sesi pertama dimana dari 200 peserta hanya 1 orang yang mencapai passing grade Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Ini sangat mengkhawatirkan, kalau bapak/ibu tidak sanggup mengemban tanggung jawab terhadap generasi muda kita sampaikan saja," tegas Gubernur.
Pun demikian, Gubernur Olly mengakui bahwa telah terjadi peningkatan pembangunan di sektor pendidikan, namun dirasa masih kurang memuaskan orang nomor satu di Sulut ini.
"Memang ada peningkatan, tapi buat saya itu masih kurang. Kita perlu lompatan, bukan sekedar peningkatan. Saya bicara keras karna hasil yang saya lihat sangat mengecewakan," tuturnya.
Kedepan Gubernur Olly menyatakan akan membuat SK tentang wawasan kebangsaan dimana mata pelajaran ini akan diterapkan dalam modul belajar siswa.
"Perlu asesment dalam meningkatkan mutu anak didik agar tercipta generasi yang punya kapasitas dan integritas tinggi. Rendahnya pemahaman atas wawasan kebangsaan sangat berbahaya bagi ideologi dan keutuhan negara kita. Kedepan akan ada SK Gubernur tentang modul pelajaran ini," katanya.
Lanjutnya, menghadapi APBD 2019 para Kepsek diharapkan dapat berkoordinasi dengan Pemprov Sulut agar mempersiapkan perencanaan dengan matang skala prioritas pembangunan sekolah masing-masing.
"Masing-masing SMA/SMK/SLB menyusun perencanaan mana yang prioritas menurut bidang agar maksimal, mana program yg pakai dana BOS mana yang memakai APBD 2019," bebernya.
Terakhir Gubernur juga menyinggung soal pengangkatan THL guru yang dilakukan tanpa koordinasi.
"Saya ingatkan bapak/ibu jangan mengangkat pegawai tanpa sepengetahuan saya. Penambahan guru ada jawalnya supaya masuk APBD. Agar jangan lagi ada guru digaji memakai dana BOS dan dibawah UMP Sulut. Kalau ada Kepsek yang menerima pegawai tanpa sepengetahuan saya berarti tidak ingin bersama saya," pungkas Gubernur.
Turut hadir Sekretaris Daerah, Edwin Silangen, Kadis Pendidikan Sulut Grace Punuh beserta jajaran, para kepala sekolah SMA/SMK dan SLB di Provinsi Sulut.(humas provinsi sulut)

Tuesday, 30 October 2018

Terkuak Foto Lawas Ratna Demo Prabowo!

Ratna, mantan aktivis kemanusiaan yang sekarang merusak tatanan kemanusiaan karena kasus hoax, dulu pernah mencari Prabowo! Bahkan ada foto Prabowo dengan tulisan “WANTED” alias “DICARI”, untuk bertanggung jawab atas kasus 1998.
Ratna yang masih cantik itu ada di sana. Membawa bunga. Positif saja. Dia mungkin mau CARI Prabowo, untuk diberi bunga dan disayang-sayang?
Foto ini penulis dapatkan dari website luar negeri. Silakan diklik di siniuntuk link langsung dan menemukan gambar mantapnya. Judul di bawah fotonya meyakinkan penulis bahwa orang itu adalah benar Ratna waktu muda.
Ratna waktu muda itu ternyata lumayan cantik loh. Penulis bilang lumayan, artinya masih bisa dilirik oleh sebagian orang. Caption di bawah gambarnya bertuliskan dengan jelas demikian.
Indonesian activists, some in masks resembling those worn by their kidnappers, with a mock wanted sign for Gen Prabowo Subianto, July 20, 1998. Photo: AFP/Dadang Tri
Pada saat itu Ratna adalah orang yang paling vokal dalam menentang rezim Soeharto yang begitu represif, opresif dan menekan. Dia sangat keras dalam melawan Soeharto pada saat itu.
Bahkan Prabowo ikut-ikutan didemo. Kembang muncul di sana. Mendemo aksi Prabowo dengan tulisan “wanted”.
Biasanya tulisan “wanted” itu ditujukan kepada orang yang sudah melakukan kesalahan. Kalau Prabowo “wanted”, artinya itu dia dicari karena sudah melakukan kesalahan. Ini menjadi duri dalam daging.
Prabowo dicari karena orang ini paling terendus memiliki keterkaitan dengan aksi 1998.
Bahkan setelah kasus ini, pangkat jenderalnya langsung dicabut oleh Panglima TNI saat itu, Wiranto yang sekarang menjadi menteri koordinator politik, hukum dan HAM alias menko polhukam. Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Semuanya masih abu-abu. Bahkan sampai sekarang.
Sejarah memang masih kabur. Sejarah memang masih abu-abu untuk hal ini. Pengungkapan itu sulit dilakukan. Sebenarnya siapa yang ada di belakang foto itu? Apakah benar-benar Ratna? Atau Ratna yang lain? Kok bisa berbeda jauh langit dari bumi antara dulu dan sekarang?
Dulu kita tahu bahwa sutradara ini adalah orang yang paling keras mengecam Soeharto dan praktik kolonialisme yang ia lakukan terhadap rakyatnya sendiri. Dulu kita tahu bahwa orang ini bahkan dibela habis oleh para mahasiswa ketika ia dipenjara waktu era Soeharto.
Lain dulu lain sekarang. Kenapa bisa begitu? Semua mungkin bisa dijawab karena keberpihakan. Kenapa ia seolah terbentur kepalanya sampai mengatakan hal tersebut? Kenapa bisa demikian? Apa yang terjadi? Kok bisa putar arah 180 derajat kurang sedikit?
Kenapa dulu dan sekarang bisa berbeda? Tentu itu bisa dijawab. Menurut orang-orang tua, pengalaman itu adalah terkikisnya idealisme. Idealisme yang terkikis membuat orang menjadi dua ekstrim. Pertama pesimis, kedua optimis.
Orang yang pesimis akan cenderung mengikuti arus. Mereka akan jatuh ke lubang ynag begitu dalam. Orang-orang demikian tidak memiliki harga diri yang bisa dipegang. Mereka jatuh. Mereka akhirnya harus menyangsikan hati nurani mereka.
Mereka mengkhianati perjuangan mereka, dan pergi ke arah manusia yang mereka benci. Orang yang mereka benci, menjadi orang yang mereka cintai. Inilah cinta. Tidak terselami. Orang ini berubah, karena orang ini tidakada pegangan.
Orang yang optimis akan cenderung bangkit. Mereka yang tahu bahwa idealisme mereka semu, akan berpikir positif. Mereka tetap bangkit apapun resikonya.
Orang-orang demikian adalah pejuang kemanusiaan. Ini baru aktivis yang sesungguhnya. Orang ini melewati setiap batasan mereka. Mereka tahu di depan mereka seolah ada jalan buntu.
Tapi orang-orang yang optimis, terus maju. Dan ternyata tembok yang buntu itu hanya fatamorgana. Semua terlihat. Semua hanya ilusi.
Mereka terus berjalan. Kenapa mereka memiliki keyakinan itu? Karena mereka tahu, bahwa yang benar adalah yang mereka pegang. Memegang teguh kebenaran adalah satu-satunya cara untuk terus maju. Tidak terjatuh seperti si Ratna itu.

Dulunya aktivis. Sekarang malah pesimis dan jatuh dalam hoax yang mereka buat sendiri. Jatuh dalam lubang hitam, yang terus menghisap mereka dan membuat mereka perlahan-lahan tertelan oleh kenyataan, bahwa Jokowi adalah orang yang terbaik.

Bahar Bin Smith: Uztad kasar, Ceramah Tak Senonoh

berikut ini adalah opini seorang warga tentang Bahar Bin Smith, Uztad radikal.
Kotbah atau ceramah rohani selalu mempunya sifat mencerahkan, menenangkan, dan mendamaikan, dan mendekatkan pendengarnya kepada Allah. Entah di agama mana pun sifat kotbah atau ceramah itu tidak berbeda, yang berbeda adalah substansinya, caranya, wadahnya, situasinya, suasananya dan tempatnya.
Tetapi sepertinya kalau mendengarkan ceramah atau kotbah Bahar bin Smith, kamu tidak akan dicerahkan, ditenangkan apalagi didamaikan. Kenapa? Karena dia bukan sedang mencerahkan melainkan menjerumuskan, bukan menenangkan melainkan menggelisahkan, bukan mendamaikan melainkan memprovokasi, dan bukan mendekatkan kepada Allah melainkan menjauhkanmu dari Allah. Minimal, itu menurut saya.
Saya sudah mendengar banyak kotbah atau ceramah dari berbagai agama-agama. Ada yang ngawur, ada yang sesat, ada yang memprovokasi, ada yang menenangkan, ada yang sangat mendamaikan, dan ada yang paling menjijikkan. Kotbah atau ceramah yang paling menjijikkan yang pernah saya dengan ya kotbah Bahar bin Smith tentang kemaluan seorang wanita. 
”Ahli firasat berkata apabila seorang perempuan itu bibirnya besar, berarti kemaluannya besar. Ini ilmu, kog diprotes? Apabila perempuan bibirnya kecil, berarti kemaluannya kecil. Apabila bibirnya merah, berarti kemaluannya kering. Firasat! Apabila seorang perempuan tulang belakangnya ini bongkok, berarti kemauannya dia itu bersetubuh besar, nafsunya gede… perempuan apabila dagunya Panjang, maka kemaluannya dalam dan bulu kemaluannya brutus. Yang ngomong ahli firasat.


Saya sudah mencari beberapa sumber dari video ini. Dari beberapa sumber video di Youtube semuanya sama, yaitu Kampung Media, 22 Oktober 2018QSK13, 23 Oktober 2018Berita Heboh, 27 Oktober 2018,@joxzin_jogja, 29 Oktober 2018 , dan Mystery Case, 29 Oktober 2018. Jadi menurut waktu publish, channel Kampung Medialah yang pertama mengunggah ke jejaring Youtube.
Bahar menyebut bahwa pengetahuannya tentang kemaluan perempuan itu menurut ahli firasat. Firasat dalam KBBI adalah (1) n keadaan yang dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat: (2) n kecakapan mengetahui (meramalkan) sesuatu dengan melihat keadaan (muka dan sebagainya): (3) n pengetahuan tentang tanda-tanda pada badan (tangan dan sebagainya) untuk mengetahui tabiat (untung malang dan sebagainya) orang: (4) n keadaan muka (mata, bibir, dan sebagainya) yang dihubung-hubungkan dengan tabiat orangnya (untuk mengetahui tabiat orang).
Maka secara umum firasat dipahami sebagai tanda-tanda, baik tanda-tanda tentang apa yang akan terjadi, tanda-tanda penyebab sesuatu itu terjadi, tanda-tanda arti dari sesuatu serta tanda-tanda yang menggambarkan sikap seseorang. Maka dengan demikian ahli firasat berarti ahli t
anda-tanda itu. Sepengetahuanku juga seperti itu
.

Dalam ceramahnya, si Bahar salah memahami arti ke empat firasat dalam KBBI. Tanda-tanda tubuh tidak menggambarkan informasi bagian tubuh yang lain. Melainkan tanda tubuh menggambarkan sikap orang lain. Misalnya, firasatku berkata Bahar itu tidak senonoh sebab matanya liar merah padam.
Pun setelah melalui pencarian di internet dan bertanya ke pada teman, tidak ada ajaran Islam yang menyatakan demikian. Mohon maaf kalau salah. Yang satu temukan itu sebatas hukumnya mencukur rambut kemaluan, hukum sunat untuk perempuan, hukum memperbesar kelamin, dan lain sebagainya yang dari semuanya itu tidak ada yang menjelaskan apa hubungan bentuk bibir dengan bentuk serta ukuran kemaluan perempuan.
Itulah sebabnya, saya mengatakan bahwa kotbah atau ceramah si Bahar ini sangat menjijikkan, menyesatkan dan tidak pantas sama sekali diutarakan kotbah. Andaikan pun ada pernyataan seperti itu, adalah tidak relevan diungkapkan secara vulgar seperti itu.
Apalagi ketika kotbah atau ceramah itu dibagikan ke media sosial. Selain menimbulkan pertanyaan di kalangan netizen, akhirnya akan menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apa ada ajaran seperti itu. Bisa jadi ceramah seperti ini akan menimbulkan pandangan buruk publik terhadap Islam. Bisa jadi loh ya.
Kalau saya sendiri sih tidak percaya, yang dia katakan. Makanya saya bilang Bahar itu habib rasa germo, karena hanya berdasarkan pengalaman-pengalaman terhadap wanita dan kemaluannya sajalah seseorang dapat menyimpulkan seperti itu. Metode ini biasa dikenal metode induktif. Hahaha…. Metode induktif pembuktian keserasian bentuk dan ciri bibir dengan ukuran kemaluan perempuan….. Vangke……
Saya kira orang-orang seperti ini harus ditertibkan. Beberapa hari yang lalu juga manusia ini sudah ceramah provokatif mengajak rakyat untuk membenci pemerintahnya. Kalau dibiarkan, ya wassalam saja…
Untung yang saya temukan masih satu. Coba kalau ada dua orang penceramah seperti ini di kalangan Islam dan Indonesia? Apa kata dunia? Ceramah seperti ini kan sudah menjijikkan, menyesatkan pula.

Wakil Ketua DPR-RI Taufik PAN Jadi Tersangka KPK!



Taufik Kurniawan tersangka! Ia diduga menerima uang dana alokasi ! Alokasi apa? Dana alokasi apa? Sadis! DPR-RI itu isinya tersangka semua ya? Gila sekali. PAN! Partai Asal Ngomong. Ternyata partai Allah ini kader-kadernya suka korupsi.
Sadis. Kejam betul saudara-saudara. Tapi ini TV One yang live, jadi apakah TV One masih bisa dipercaya? Bisa! Karena Aburizal Bakrie dan Erick Thohir sudah benar-benar luar biasa mendukung Jokowi! Faldo dan Gamal, masih ada waktu untuk ke Jokowi! Cepat sebelum tenggelam! #JokowiLagi
Ternyata Taufik Kurniawan ini dicegat KPK untuk keluar negeri ada tujuannya toh. Ternyata agar dia tidak kabur dan bisa menikmati statusnya sebagai tersangka. Pantas saja Amien Rais kejang-kejang.
KPK beberapa hari lalu sudah mencegah wakil ketua DPR RI dari PAN, Taufik Kurniawan untuk bepergian ke luar negeri. Wasekjen PAN, Faldo Maldini pun angkat bicara. Ia berkoar bahwa ia akan mematuhi hukum.
PAN partai sangat reformis, kami sangat patuh kepada hukum. Pak Taufik dicekal, sepertinya kami serahkan ke proses hukum, mungkin ada beberapa pemanggilan dan kami akan koorperatif… Belum dibahas di DPP
(Pendampingan hukum,-red) Tapi ini belum dibahas di DPP. Maksud saya ini kan masih pencekalan ya, belum jauh-jauh…
Kami lihat prosesnya. Sabar saja, slow. Mungkin besok, lusa, atau 2-3 hari, kami lihat saja. Kami doakan smoga proses lancar, tidak ada permasalahan apapun, kami serahkan kepada proses hukum yang berjalan…
ujar Faldo Maldini, di Djakarta Theater, Jalan MH Thamrin, Minggu (28/10/2018).
Noda hitam di dalam setiap kepartaian PAN itu benar-benar dekil. Kotor dan tidak karuan. Partai Asal Ngomong…
Eh. Partai Amanat Nasional ini ternyata menjalankan amanat korupsi. Banyak sekali kader-kader PAN yang tertangkap Korupsi.
Siapa saja? Zainudin Hasan, Zumi Zola, dan sekarang Taufik Kurniawan. Mereka ini bukan orang-orang kecil di PAN. Mereka ini orang-orang besar di PAN.
Suap Kabupaten Kebumen senilai 100 miliar. Sadis. Kejam. Tidak senonoh. KPK garang. Lantang. PAN masih bisa petantang-petenteng?"KPK tetapkan TK (Taufik Kurniawan), TK ini wakil ketua DPR, sebagai tersangka. TK yang merupakan wakil ketua DPR diduga menerima hadiah atau janji,"
kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (30/10).
Seharusnya Senin sore kemarin KPK menetapkan status Taufik Kurniawan, tapi katanya karena ada si Amien Rais datang mendadak ke kantor KPK dan ditunda, KPK menundanya sedikit.
Penundaan itu mungkin dilakukan karena Amien Rais datang. Tapi tidak apa-apa. Tidak usah takut. Ini adalah serangan decoy alias pengalihan saja.
Nama Taufik Kurniawan ini sebenarnya sudah mencuat dalam persidangan kasus korpsi dengan terdakwapengusaha asal Kebumen, Khayub Muhammad Lutfi di Pengadilan Tipikor Semarang Rabu 4 Juli 2018 kemarin.
Sadis. Lagi-lagi satu per satu partai penolak Ahok mendapatkan karma tunai tuntas tanpa ampun. Ini bukan main-mainan KPK. KPK hanya menjalankan hukum yang Tuhan percayakan kepada mereka.
KPK tidak bisa diajak main-main. Netralitasnya sangat luar biasa. Tapi sekali lagi, netralitas selalu berpihak kepada kebenaran, buka kezaliman.
Ini menjadi sebuah peringatan di tahun 2019. Siapa yang kita pilih? Pemimpin yang didukung oleh PAN PKS? Atau yang didukung oleh partai PDI-P dan PSI yang tidak ada caleg eks napi koruptornya?
Hari depan Indonesia ada di tangan kita semua. Ada di tangan orang-orang muda yang jujur dan bersih. Bukan di tangan si manusia sok muda sok kecil Faldo Maldini yang ada di PAN.

Inilah Jawaban Presiden Jokowi Soal Isu PKI, Antek Asing, dan Harga Bahan Pokok Naik

Presiden Jokowi membuka Kongres XX Tahun 2018 Wanita Katolik Indonesia (WKRI), di Magnolia Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Superblok Mega Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/10) pagi. (Foto: JAY/Humas)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan keprihatinannya, sekarang ini muncul isu-isu yang menurutnya tidak mencerdaskan rakyat, tidak mematangkan masyarakat dalam berdemokrasi.
“Ini bisa memecah kita, kalau kita nggak segera kembali kepada rel bahwa pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden itu akan ada terus setiap 5 tahun,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Kongres XX Tahun 2018 Wanita Katolik Indonesia (WKRI), di Magnolia Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Superblok Mega Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/10) pagi.
Kepala Negara menunjuk contoh isu yang menyebut dirinya simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal PKI dibubarkan tahun 1965-1966, saat dirinya masih berumur 4 tahun. Juga ada dalam media sosial gambar dirinya disamping Aidit, tokoh PKI yang sedang berpidato tahun 1955.
“Saya cek pidato tahun berapa sih? Tahun 1955, saya lahir saja belum, kok sudah ada di dekatnya ini,” kata Kepala Negara dengan nada bertanya.
Namun, menurut Presiden, banyak yang percaya dengan isu-isu itu. Bahkan ada survei 6 persen atau 9 juta lebih yang percaya. Inilah yang membuat Kepala Negara bertanya, yang pintar itu yang membuat gambar atau yang nggak bener yang percaya.
“Saya heran kok gambarnya ya persis saya gitu, di dekatnya lagi kok persis. Aduh yang namanya media sosial ini memang nakal-nakal,” ujar Presiden Jokowi.
Antek Asing
Presiden Jokowi juga menunjuk isu lain yang dikembangkan melalui media sosial, yang menuduhnya sebagai antek asing. Menuduhnya langsung.  Presiden justru mempertanyakan antek asing yang mana?
Presiden memberi contoh, misalnya Blok Mahakam yang dulunya dikelola oleh Perancis dan Jepang, sudah 100 persen ia serahkan kepada Pertamina, sejak 2015. Lalu Blok Rokan, Chevron sudah 100 persen dimenangkan oleh Pertamina.
Freeport yang 40 tahun Indonesia hanya diberi 9,3 persen, menurut Presiden, negoisasi sudah 4 tahun, sudah head of agreement, sudah Sales & Purchase Agreement.
“Kita bisa mendapatkan 51 persen sudah mayoritas. Tapi nggak mudah melakukan ini, baik tekanan politik, baik tekanan kanan kiri,”ungkap Presiden seraya menambahkan, kalau kepengen gampang ya sudah sehari saja selesai, tanda tangan, 9 persen, sudah, rampung, enggak ada tekanan apa-apa.
Tapi Presiden menegaskan, bukan itu yang kita inginkan, tapi National Interest kita, kepentingan nasional kita.
“Kok enggak ada yang demo waktu kita dapat 100 persen,  dapat 51 persen? Demo mendukung gitu loh. Demo mendukung kok enggak ada. Kalau antek asing, antek asing ramainya kaya gitu,” ucap Presiden Jokowi.
Sementara yang berkaitan dengan tenaga kerja asing, TKA, katanya ada 10 juta tenaga kerja dari Tiongkok membanjiri Indonesia. Presiden mengakui, isu-isu seperti ini banyak dipercayai.
Padahal, lanjut Presiden, tenaga kerja asing yang ada di Indonesia paling 80.000-an semuanya. Yang dari Tiongkok itu kurang lebih 24.000. Sementara tenaga kerja Indonesia yang ada di Tiongkok, di China, itu malah 80.000 lebih.
“Jadi di sana malah antek Indonesia, kalau ngomongnya antek-antekan. Jangan seperti itulah, negara-negara lain juga menerima kok tenaga kerja asing, dalam rangka memperbaiki SDM yang ada di negaranya,” tegas Presiden Jokowi.
Presiden juga menunjukkan data, tenaga kerja asing di Indonesia tidak sampai 1 persen. Ia membandingkan dengan Uni Emirat Arab (UEA) 80 persen. Arab Saudi 33 persen, Brunei 32 persen, Singapura ada 24 persen, Malaysia 5 persen, sementara Indonesia 0,03 persen.
“Satu persen saja enggak ada kok diramaikan. Jutaan dari mana? Kalau kita ini kan gampang sekali. Tanya imigrasi sudah kelihatan,” ucap Presiden Jokowi seraya menambahkan, isu-isu seperti itu kalau enggak dijawab dipikir itu sebuah kebenaran.
Tanya Langsung Pedagang
Sedangkan mengenai isu-isu harga bahan pokok naik.  Presiden mengemukakan, inflasi biasanya 9 persen, 8 persen, namun sekarang inflasi dibawah 3,5 (persen). “Artinya harga itu terkendali. Harga itu terkendali, dikendalikan,” tegas Presiden.
Kepala Negara menjelaskan, dirinya juga sering keluar masuk pasar, bertanya langsung ke pedagang. “Saya itu mendengarkan apa yang menjadi keluhan-keluhan juga. Kalau kita bisa mencarikan solusi, mencarikan jalan keluar, ya kita berikan. Tapi kalau yang sulit, misalnya barang impor ya sulit karena pasar internasional,” terang Kepala Negara.
Terakhir, Kepala Negara mengaku masuk di pasar di Semarang, dan bertanya mbok-mbok yang berjualan di pasar, harga yang stabil atau tidak stabil. Menurut para pedagang itu, ungkap Presiden, biasa harga cabai ada yang naik ada yang turun sampai Rp10.000. Untuk itu, Presiden Jokowi mengingatkan masyarakat agar jangan sampai termakan isu-isu yang tidak benar.

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Kongres XX Tahun 2018 Wanita Katolik Indonesia (WKRI), 30 Oktober 2018, di Magnolia Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Superblok Mega Kemayoran, Jakarta Pusat

Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang saya hormati, Yang Mulia Ketua KWI Bapak Mgr Ignatius Suharyo, beserta seluruh jajaran pengurus KWI, para Pastur, para Romo yang hadir pada pagi hari ini,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja yang hadir,
Yang saya hormati Ketua DPP Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Ibu Ketua Umum Ibu Justina Rostiawati, beserta seluruh jajaran pengurus dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,
Yang saya hormati Ketua Kowani Ibu Giwo,
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia
Pertama-tama, saya ingin menyampaikan beberapa fakta yang menarik mengenai perempuan. Di beberapa riset, perempuan memiliki keunggulan dibandingkan laki-laki. Perempuan memiliki harapan hidup lebih tinggi, perempuan lebih kuat dalam menghadapi persaingan. Ini menurut Harvard Business Review, bukan menurut saya. Tapi menurut saya juga sama.
Perempuan memiliki otak yang lebih aktif dalam merespons empati. Ini menurut World Economic Forum. Kemudian, wanita/perempuan mempunyai kemampuan multitasking yang lebih tinggi dibandingkan lelaki. Jadi kalau diberikan tugas yang multi itu perempuan mempunyai kemampuan yang lebih. Ini menurut Public Library Science. Dan dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan multitasking perempuan ini memang benar jauh lebih hebat dibandingkan laki-laki.
Coba kita lihat, kemarin waktu Asian Games, kita dapat 31 emas, 12 emas disumbangkan oleh atlet perempuan. Ada Defia Rosmaniar, ada Lindswell Kwok, ada Aries Susanti, dan yang lain-lainnya. Tapi yang diramaikan pas saya naik sepeda motor, bukan emasnya tadi. Harusnya emasnya tadi gitu lho, prestasinya mestinya. Kalau saya naik sepeda motor itu, itu pertunjukan dan hiburan. Beda.
Tapi para politikus yang disorot itu saya yang pas meloncat tadi. Lha ini. Pertanyaanya pasti, “kok pakai stuntman?”  Ya masa Presiden disuruh meloncat sendiri? Kan enggak mungkin. Ya pasti pakai stuntman, pakai peran pengganti. Yang diurus hal-hal yang sebetulnya tidak perlu diurus.
Ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia yang saya hormati,
Pemerintahan di bawah kepemimpinan saya, dulunya ada sembilan perempuan, ada sembilan perempuan. Kemudian mundur satu karena jadi Gubernur Jawa Timur. Sekarang masih ada delapan perempuan. Biasanya di Kabinet kita paling tiga atau empat perempuan yang jadi menteri.
Ada yang halus, ada yang halus. Seperti Ibu Yohana ini halus. Ibu Nila Moeloek, Profesor Yohana, Profesor Nila Moeloek halus. Tapi ada yang galak juga. Bu Susi misalnya, ini paling galak ini.
Kenapa banyak perempuan di Kabinet yang saya pimpin? Karena saya yakin kehebatan perempuan. Saya meyakini kehebatan perempuan, saya juga meyakini ketelitian, ketangguhan, dan kesiapan dalam bekerja. Oleh sebab itu, saya juga banyak berharap terhadap peran organisasi perempuan dalam membangun negara ini, dalam membangun Indonesia, termasuk di dalamnya peran besar dari Wanita Katolik Republik Indonesia.
Yang kedua, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya mengenai negara kita Indonesia. Negara ini adalah negara besar. Perlu saya ingatkan negara ini adalah negara besar. Sekarang kita telah memiliki penduduk 263 juta dengan perbedaan-perbedaan yang begitu sangat besar. Ada 714 suku yang kita miliki, ada 1.100 lebih bahasa daerah yang kita miliki, agama berbeda-beda, adat berbeda-beda, tradisi berbeda-beda. Itu bisa kita rasakan dan kita ketahui kalau kita sudah keliling Indonesia.
Saya pernah terbang dari Aceh menuju ke Wamena, bukan Jayapura, tapi di Wamena langsung terbang. Berapa jam dibutuhkan? Sembilan jam lima belas menit. Itu naik pesawat. Kalau jalan kaki bayangkan berapa tahun. Kalau kita terbang dari London di Inggris itu ke timur sampai melewati satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, atau delapan negara, sampai di Istanbul, di Turki itu sembilan jam.
Artinya apa? Negara ini negara besar, negara besar. Kita diberikan anugerah oleh Tuhan keberagaman. 714 suku ini sangat besar sekali. Sangat besar sekali. Coba dibandingkan dengan Singapura. Saya pernah bertanya ke Duta Besar Singapura, ada berapa suku di Singapura. Empat, kita 714. Di Afghanistan, bulan Januari saya ke Afghanistan, saya tanya ada berapa suku di Afghanistan. Tujuh suku, tujuh, kita 714. Di sana tujuh, di sini 714.
Betapa perbedaan-perbedaan dan keragaman ini memang sudah menjadi anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita bangsa Indonesia. Inilah yang patut kita syukuri dan harus kita pelihara, harus kita rawat persatuan kita, persaudaraan kita, kerukunan kita. Karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, adalah kerukunan, adalah persaudaraan.
Begitu kita bersatu, coba dilihat tadi, di dalam Asian Games yang biasanya kita ranking 22, ranking 17, ranking 15 bisa masuk ke rangking ke-4 di seluruh Asia. Karena saat bertanding kita enggak pernah berbicara, yang taekwondo itu agamanya apa,  yang wushu Lindswell Kwok itu dari provinsi mana, sukunya apa. Sudah enggak pernah kita berbicara itu. Yang silat itu dari suku mana, dari daerah mana, enggak berpikir. Berpikirnya hanya satu, Bendera Merah Putih berkibar, lagu Indonesia Raya dikumandangkan di pertandingan itu. Hanya itu.
Tapi sering, ini yang sering terjadi adalah karena pilihan bupati, karena pilihan wali kota, karena pilihan gubernur, karena pilihan presiden, ini karena politik saja kadang-kadang kita ini menjadi kelihatan terpecah-pecah. Sehingga saya ingin agar ini disampaikan, jangan sampai karena pesta demokrasi setiap lima tahun, ini setiap lima tahun pasti ada. Bukan hanya 2019 saja, setiap lima tahun pilkada ada, pilpres ada, ada terus. Saya selalu sampaikan, silakan misalnya ada pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, atau pilihan presiden, ada calon A, B, C, D ya sudah dipilih saja. Ada calon A, B pilih saja, menurut rasional kita yang paling baik. Tentu saja perlu kita lihat rekam jejak, track record, prestasinya apa dilihat, atau dalam debat  ada kontestasi, adu program, adu ide, adu gagasan, itu yang dilihat.
Sekarang ini yang muncul justru isu-isu, isu ini, isu ini,  isu ini, ini enggak mencerdaskan kita sebagai rakyat, tidak mematangkan kita dalam berdemokrasi. Itulah yang sering saya sampaikan. Dan jangan sampai kita terbawa oleh suasana itu. Ini bisa memecah kita, kalau kita enggak segera kembali kepada rel bahwa pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, dan pilihan presiden itu akan ada terus setiap lima tahun. Masa sudah, kita ini sudah empat tahun, masih 2014 dibawa-bawa sampai sekarang.
Coba isu-isu mengenai PKI, Presiden Jokowi itu PKI. Lho lho lho,  PKI itu dibubarkan tahun ’65 – tahun ‘66. Saya lahir itu  tahun ’61. Umur saya baru empat tahun, kok bisa jadi aktivis PKI itu dari mana? Enggak ada aktivis PKI balita, itu Enggak ada. Tapi di dalam media sosial banyak sekali gambar-gambar seperti ini. Coba kita lihat gambar. Ini tahun 1955, DN Aidit, Ketua PKI pidato saat itu. Saya cek ini pidato tahun berapa sih, saya cek, tahun ’55. Saya lahir saja belum, kok sudah ada di dekatnya ini.
Tapi banyak yang percaya. Ada, survei kita itu ada enam persen percaya lho. Enam persen itu sembilan juta lebih, percaya. Ini yang pintar yang membuat gambar atau yang enggak benar yang percaya gitu. Tapi yang saya heran kok gambarnya ya persis saya gitu, di dekatnya lagi. Kok persis. Kadang-kadang, aduh ini yang namanya media sosial sekarang ini memang nakal-nakal.
Saat di medsos saya lihat, ini saya atau bukan, saya lihat, oh saya, persis, persis saya. Ini nakalnya media sosial. Tapi ada yang percaya itu. Gambar-gambar seperti itu, banyak gambar-gambar seperti ini bertebaran di media sosial.
Saya itu kalau dari Istana menuju ke Bogor punya waktu satu jam, dari Bogor ke Jakarta punya waktu satu jam. Saya buka-buka berita, buka-buka media sosial, semua saya buka, jadi saya mengerti apa yang menjadi isu, tahu apa yang menjadi isu-isu.
Kemudian isu lagi antek asing, antek aseng. Menuduhnya langsung. Antek asing yang mana? Coba, Blok Mahakam, Blok Mahakam itu blok besar yang dulunya dikelola oleh Perancis dan Jepang, sudah 100 persen saya serahkan kepada Pertamina, sejak 2015. Blok besar, Blok Rokan, Chevron sudah 100 persen dimenangkan oleh Pertamina. Freeport, yang 40 tahun kita hanya diberi 9,3 persen, kita nego, negoisasi sudah empat tahun, sudah head of agreement, sudah sales and purchase agreement. Kita bisa mendapatkan 51 persen, sudah mayoritas. Tapi enggak mudah melakukan ini, baik tekanan politik, baik tekanan kanan-kiri. Apa mudah? Kalau ingin gampang, ya sudah sehari saja selesai, tanda tangan, sembilan persen tetap. Sudah, rampung, enggak ada tekanan apa-apa. Selesai.
Tapi bukan itu kan. Kita ingin national interest kita, kepentingan nasional kita. Kok enggak ada yang demo waktu kita dapat 100 persen, dapat 51 persen ini di depan Istana? Demo mendukung gitu lho. Demo mendukung kok enggak ada? Kalau antek asing, antek asing ramainya kayak gitu.
Kemudian yang berkaitan dengan Tenaga Kerja Asing (TKA). Katanya ada sepuluh juta tenaga kerja dari Tiongkok membanjiri Indonesia. Mana? Ini isu-isu seperti ini banyak dipercayai. Ini kalau enggak saya terangkan berulang-ulang dipikir sebuah kebenaran. Padahal tenaga kerja asing yang ada di Indonesia paling 80.000-an semuanya. Yang dari Tiongkok itu kurang lebih 24.000. Tenaga kerja kita yang ada di Tiongkok/di China, itu malah 80.000 lebih.  Di sini hanya 24.000, kita di sana 80.000.  Jadi di sana malah antek Indonesia, kalau ngomongnya antek-antekan. Jangan seperti itulah. Negara-negara lain juga menerima kok tenaga kerja asing, dalam rangka memperbaiki SDM yang ada di negaranya.
Coba kita lihat, kita itu enggak ada satu persen tenaga kerja asing di Indonesia. Coba kita lihat, Uni Emirat Arab, 80 persen. Arab Saudi, ada 33 persen tenaga kerja asing di sana. Brunei, 32 persen tenaga kerja asing yang ada di Brunei. Singapura, ada 24 persen tenaga kerja asing yang ada di Singapura. Malaysia, lima persen. Indonesia, 0,03 persen. Satu persen saja enggak ada kok diramaikan? Jutaan, jutaan dari mana? Menghitungnya kapan? Kalau kita ini kan gampang sekali, tanya imigrasi sudah kelihatan. Isu-isu seperti itu kalau enggak dijawab dipikir ini sebuah kebenaran.
Isu-isu harga bahan pokok naik. Ada yang datang ke pasar ngomong harga bahan pokok naik. Inflasinya biasanya sembilan persen, delapan persen, sekarang inflasi di bawah 3,5 persen. Artinya harga itu terkendali. Harga itu terkendali, dikendalikan.
Dipikir saya enggak pernah keluar masuk pasar? Saya juga sering keluar masuk pasar, saya tanya langsung ke pedagang. Saya itu mendengarkan apa yang menjadi keluhan-keluhan juga. Kalau kita bisa mencarikan solusi, mencarikan jalan keluar, ya kita berikan. Tapi kalau yang sulit, misalnya barang impor ya sulit karena pasar internasional.
Terakhir saya masuk di pasar di Semarang. Saya tanya mbok-mbok yang berjualan di pasar, harganya stabil atau enggak stabil, yang naik apa. Saya tanyakan semua. “Enggak ada Pak, hanya ini cabai Pak. Cabainya agak naik.” Tapi ya biasa harga cabai kadang naik kadang turun sampai Rp10.000. Kalau pas turun Rp10.000 yang teriak-teriak petani, “kok murah sekali harga cabai.” Bagaimana, wong semua menanam cabai. Pas harga tinggi semua menanam cabai, begitu panen, semuanya cabai semuanya, harga anjok. Ya seperti itu, biasa fluktuasi seperti itu, semua barang-barang kan biasa, tergantung supply dan demand. Kalau supply-nya banyak harga pasti turun, biasa. Yang paling penting dikendalikan dengan angka-angka yang namanya inflasi. Pegangan kita inflasi, tidak harga yang naik. Ini cabai baru naik, “wah ini cabai naik.” Ya memang supply-nya enggak banyak, pasti naik. Biasa. Setiap tahun kita lihat, kadang telur sudah turun ganti lagi cabai, ya biasa seperti itu.
Jangan sampai kita ini termakan isu-isu yang tidak benar. Wong saya setiap pagi itu bacaan saya apa sih? Harga-harga, angka-angka. Apa yang saya baca itu? Harga-harga. Jangan dipikir saya enggak…. Saya selalu setiap pagi, telur pagi ini berapa, beras berapa. Mungkin dengan ibu-ibu lebih tahu saya. Ibu-ibu kan enggak pernah ke pasar.  Ke pasar? Oh ke pasar. Iya. Ya kalau ke pasar bolehlah komentar, “Pak yang mahal apa.” Wong enggak pernah ke pasar cerita mengenai harga beras. Seperti tadi pagi yang sudah masuk ke saya, pagi-pagi jam 06.00 – jam 06.30  sudah masuk ke saya harga beras Rp11.750, ini turun Rp100. Telur Rp22.950, turun Rp350. Saya hanya tahu turun atau naik, gitu saja. Saya cek turun Rp350. Ayam Rp33.300, turun Rp1.150.
Tapi kalau yang turun-turun ini yang teriak peternaknya. Jangan dipikir kalau turun, turun masyarakat senang, peternaknya teriak-teriak. Telur naik, peternak senang. Begitu turun, ada yang teriak-teriak. Yang sulit itu adalah menjaga keseimbangan, bagaimana masyarakat senang, peternaknya juga senang. Bagaimana masyarakat senang, petaninya juga senang. Jadi menjaga keseimbangan, jadi di sini dengar, di sini dengar. Harus seperti itu. Setiap pagi itu.
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Maka secara resmi saya membuka Kongres XX Wanita Katolik Republik Indonesia.
Terima kasih.
Selamat pagi.



Rapat Koordinasi Dan Bantuan Hukum Dan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia

Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) merupakan dokumen yang memuat sasaran strategis dan fokus kepada kegiatan prioritas rencana aksi nasional hak asasi manusia indonesia.
Hal ini di katakan Asisten III Setda Kota Tomohon Ir. Corry Caroles saat menghadiri kegiatan Rapat Koordinasi dan Bantuan Hukum dan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia mewakili Walikota Tomohon Jimmy F. Eman, SE.Ak yang dilaksanakan di Rumah Dinas Walikota Tomohon, 17/10/18.
Lebih lanjut, Caroles saat membacakan sambutan Walikota mengatakan bahwa Pemerintah mengeluarkan kebijakan resmi yakni dengan dikeluarkannya undang-undang nomor 39 tahun 1999 yang mengamanatkan pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi serta menegakan dan memajukan Hak Asasi Manusia (HAM). Implementasinya tertuang pada pasal 72 bahwa kewajiban dan tanggung jawab pemerintah tersebut meliputi langkah-langkah implementasi secara efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, keamanan negara dan bidang lainnya. Berdasarkan undang-undang nomor 39 tahun 1999 tersebut maka pemerintah menetapkan rencana aksi nasional hak asasi manusia (ranham) yang dituangkan dalam peraturan presiden nomor 75 tahun 2015 sebagaimana telah diubah dengan peraturan presiden nomor 33 tahun 2018.
“Strategi implementasi RANHAM terdiri 6 (enam) meliputi penguatan institusi pelaksana RANHAM; penyiapan pengesahan dan penyusunan bahan laporan implementasi instrumen internasional HAM; penyiapan regulasi harmonisasi perda dan evaluasi peraturan perundang-undangan menurut perspektif HAM; pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang HAM; penerapan norma dan standar HAM serta pelayanan komunikasi masyarakat.” Ujar Caroles
“Dalam pasal 92 undang-undang nomor 5 tahun 2014 menyatakan bahwa pemerintah wajib memberikan bantuan hukum bagi aparatur sipil negara yang dalam melaksanakan tugasnya berhadapan atau mengalami masalah hukum.” tambahnya.
“Pemberian bantuan dan perlindungan hukum kepada para pegawai tidak berarti memberi peluang kepada ASN untuk melakukan penyalahgunaan wewenang jabatan, termasuk tindakan melawan hukum seperti korupsi, akan tetapi harapan kita semua tidak ada ASN kita yang tersangkut kasus hukum atau kasus korupsi, karena adanya upaya kriminalisasi dari pihak-pihak tertentu.” kunci Caroles.
Turut hadir dalam kegiatan ini sebagai narasumber Kabag Bantuan Hukum dan HAM Setda Prov. Sulut Frangky Tambuwun, SH, Pengacara Ibu Jean Maengkom, SH, Kabag Hukum Setda Kota Tomohon Denny Mangundap, SH serta jajaran pemerintah Kota Tomohon.
Sumber : Bagian Humas dan Protokol

Ini Penyebab Tubuh Korban Lion Air Terpotong Versi Basarnas

Ini Penyebab Tubuh Korban Lion Air Terpotong Versi Basarnas

Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas Bambang Suryo Aji menyebutkan ada benturan yang keras saat pesawat Lion Air JT 610 itu terjatuh ke perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Hal itu, kata Bambang yang mengakibatkan badan tubuhpenumpang terpotong menjadi beberapa bagian.
"Kalau menurut saya mungkin karena benturan, lalu pecah itu dan mengakibatkan serpihan-serpihan berdampak pada tubuh korban," kata Bambang saat ditemui di Kantor Basarnas, Jakarta Pusat, Senin (29/10/2018).
Selain terkena serpihan pesawat yang hancur, Bambang juga menduga tubuh para korban terpotong-potong akibat jatuh dari ketinggian 2.500 kaki dan menghantam permukaan air.  Akibat hal itu, kata dia mengakibatkan tubuh para korban hancur.
"Dari ketinggian 2.500 feet itu menuju air tekanannya lebih keras. Mungkin juga ada potongan pesawat yang kena korban," ungkap Bambang.
Sebelumnya, Basarnass menemukan potongan tubuh korban pesawat jatuh Lion Air JT 610. Bagian tubuh yang ditemukan di antaranya seperti kuping hingga usus yang mengambang di perairan Tanjung Karawang.
Potongan tubuh para korban itu sudah disimpan ke dalam 6 kantong mayat yang telah dibawa oleh petugas menuju RS Polri Kramatjati. Di RS itu, potongan tubuh dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tim DVI Mabes Polri.
Diketahui, pesawat Lion Air JT 610 lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang pada pukul 06.20 WIB. Namun, pesawat itu dilaporkan hilang kontak dan terakhir terjatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pagi tadi.
Pesawat tujuan ke Pangkal Pinang itu membawa 189 orang termasuk dua pilot dan enam pramugari. Pesawat pun sempat meminta kembali ke Bandara Soekarno Hatta sebelum akhirnya hilang kontak.

MK Tolak Gugatan Mahasiswa UI soal UU Terorisme

MK Tolak Gugatan Mahasiswa UI soal UU Terorisme

 Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan uji materi Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU 1/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU Terorisme). Gugatan tersebut dianggap tidak beralasan menurut hukum.

"Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," ujar Ketua MK Anwar Usman saat membacakan amar putusan di ruang sidang MK, Jakarta, Selasa (30/10). 

Gugatan tersebut diajukan oleh dua orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia yakni Zico Leonard dan William Aditya. Keduanya menggugat pasal 1 ayat 1, pasal 43A ayat 3 huruf b, pasal 43C ayat 1, 2, 3, 4, pasal 43F huruf c, dan pasal 43G huruf a.


UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme telah resmi disahkan pada Mei lalu. Pengesahan UU ini merupakan hasil revisi UU 15/2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. "Ideologi sebagai salah satu motif perbuatan terorisme dimaknai sebagai ideologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata hakim anggota Saldi Isra. Dalam pasal yang digugat di antaranya menjelaskan definisi terorisme dan pencegahan tindak pidana terorisme melalui proses kontra radikalisasi dan deradikalisasi. 

Terkait definisi, pemohon menilai beleid tersebut tak menyebutkan definisi radikal secara jelas dan tidak menjelaskan bahwa terorisme bertentangan dengan Pancasila. Mereka khawatir hal itu akan menimbulkan stigma pada setiap orang bahwa yang radikal adalah teroris. 

Meski tak secara eksplisit menyatakan perbuatan terorisme bertentangan dengan Pancasila, menurut hakim, pasal tersebut tetap menunjukkan bahwa perbuatan itu bertentangan dengan Pancasila. 

Hal ini terkait penjelasan terorisme sebagai perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan .... dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan. 


Sementara terkait makna radikal yang digugat pemohon, hakim menegaskan bahwa hal itu terkait dengan perbuatan terorisme. 

"Secara kontekstual yang dimaksud istilah kontra radikalisasi dan deradikalisasi kaitannya adalah dalam tindak pidana terorisme," ucapnya. 


Terdapat sejumlah perubahan di antaranya soal definisi, ketentuan perlindungan bagi korban aksi terorisme, pemberatan sanksi, hingga pembantuan melakukan tindak pidana terorisme

Pasukan TNI AL Angkat Tiga Bagian Jenazah Korban Lion Air

Pasukan TNI AL Angkat Tiga Bagian Jenazah Korban Lion Air

Pasukan TNI AL yang menyisir menggunakan Landing Craft Utility (LCU) KRI Banda Aceh dengan nomor lambung 593-2 berhasil mengangkat tiga korban pesawat Lion Air JT-610 dari perairan Karawang, Selasa (30/10).

Proses pengangkatannya tak terbilang mudah. Sebab, personel TNI AL mesti memposisikan LCU dengan tepat sehingga bisa mengangkat jenazah tersebut.

Peralatan yang digunakan juga seadanya yang ada di kapal, yakni sebuah tongkat di mana ujungnya dibuat seperti sebuah mata pancing.

Namun, keterbatasan tersebut, ditambah teriknya matahari di perairan Karawang, tak mengurangi semangat para personel dalam melakukan proses penyisiran dan evakuasi tersebut.
Jenazah kemudian diangkat dan langsung dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang memang telah disiapkan sebelumnya.


Tak hanya menemukan jenazah, personel TNI AL juga mengangkat dua potong pakaian perempuan berupa dress berwarna putih serta kaus berwarna ungu.

Dalam penyisiran tersebut, juga ditemukan satu serpihan berukuran cukup besar yang diduga merupakan bagian dari pesawat.
Kendati demikian, tak diketahui secara pasti serpihan tersebut merupakan bagian apa dari pesawat.