Pagi di Sulawesi Utara, Rabu (3/10) pukul 08.47 WITA mendadak dikejutkan oleh erupsi Gunung Soputan. Gunung api yang berada di Kabupaten Minahasa Tenggara ini meletus dengan mengeluarkan abu vulkanik setinggi 4.000 meter atau 4 kilometer di atas puncak kawah. Laman Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, kolom abu vulkanik teramati berwarna kelabu dan cokelat dengan intensitas yang tebal.
Pergerakan abu vulkanik teramati bergerak ke arah Barat dan Barat Laut. Dari seismogram Pos Pengamatan Gunung Soputan, terdeteksi erupsi terjadi selama enam menit.
Hingga saat ini, Gunung Soputan berada di status Level III (Siaga). Batas zona bahaya berada dalam radius 4 km dari kawah Gunung Soputan. Selain itu zona bahaya pun mengalami perluasan sektoral ke arah Barat dan Barat Daya sejauh 6,5 km dari puncak Soputan.Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan, sejauh ini belum ada laporan dampak letusan Gunung Soputan. “Masyarakat di sekitar Soputan diimbau untuk selalu menggunakan masker untuk mengantisipasi bahaya hujan abu,” ujarnya.
Selain itu, Sutopo meminta agar masyarakat tetap tenang dalam beraktivitas. “Masyarakat belum perlu mengungsi karena masih aman. Dalam radius empat kilometer zona bahaya tidak ada pemukiman,” jelasnya.Melansir Kantor Berita Antara, sebelum letusan terjadi, Gunung Soputan sempat mengeluarkan suara dentuman. “Suara sempat terdengar sampai ke pos pengamatan Gunung Soputan. Gempa vulkanik akibat erupsi Soputan juga terekam cukup banyak,” ujar Asep, Kepala Pos Pengamatan Gunung Soputan di wilayah Silian.
Wahyu Novyan dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, Gunung Soputan punya interval letusan yang berdekatan.
“Terakhir Soputan meletus tahun 2008, 2011, 2012 dan 2015. Kalau dilihat Interval ini memang hitungan terjadinya adalah tahun 2018 ini. Ada kemungkinan juga letusan Gunung Soputan dipicu oleh pergerakan Sesar Palu Koro. Namun semua butuh pembuktian ilmiah dari rekaman data seismisitas (katalog yang memuat persebaran gempa) pascagempa Palu,” jelasnya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Pos Pengamatan Gunung Soputan, tinggi kolom abu vulkanik teramati sekitar 4.000 meter di atas puncak kawah atau 5.809 meter di atas permukaan laut. "Kolom abu dengan tekanan kuat teramati berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 39 mm dan durasi sekitar 6 menit," kata Sutopo dalam siaran pers yang diterima, Rabu. Sutopo menyebutkan, hujan abu vulkanik diperkirakan jatuh di daerah di barat-barat laut Gunung Soputan. Baca juga: Gunung Sinabung Berstatus Awas, Soputan dan Karangetang Siaga Namun demikian, hujan abu vulkanik tidak mengganggu penerbangan. Bandara Internasional Sam Ratulangi di Kota Manado tetap beroperasi normal. Posisi bandara berada di Tenggara dari Gunung Soputan. "BPBD masih melakukan pemantauan. Belum ada laporan dampak letusan Gunung Soputan. BPBD membagikan masker kepada masyarakat," kata Sutopo. Saat ini, Gunung Soputan berada pada Status Level III (Siaga). Sutopo mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di seluruh area di dalam radius 4 kilometer dari puncak Gunung Soputan. Masyarakat juga diimbau tidak masuk ke area perluasan sektoral ke arah barat-barat daya sejauh 6,5 km dari puncak Soputan. Sebab, daerah itu merupakan kawasan bukaan kawah untuk menghindari potensi ancaman guguran lava maupun awan panas. "Masyarakat di sekitar Gunung Soputan dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu," imbaunya. Baca juga: Soputan Kembali Erupsi, Debu Vulkanis Mencapai Ratatotok Warga juga diminta mewaspadai potensi ancaman aliran lahar yang dapat terjadi setelah terjadinya erupsi. Material erupsi bisa terbawa oleh air, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan, seperti Sungai Ranowangko, Lawian, Popang, dan Sungai Londola Kelewahu.



No comments:
Post a Comment