
Bukan Amien Rais namanya kalau semua orang yang tidak mau tunduk kepada kemaunnya, harus menerima kenyataan dimusuhi. Tokoh tua yang satu ini kerap menjadi bahan pembicaraan di warung-warung pinggir jalan, angkringan atau kaki lima. Bukan karena kehebatannya, sama sekali bukan tapi justru sebaliknya karena sikap-sikapnya terutama terkait pernyataannya yang bikin tak nyaman masyarakat Indonesia.
Dan kali ini yang terkena semprotannya bukanlah tokoh sembarangan, beliau adalah Haedar Nasir Ketua Muhammadiyah saat ini. Sikap Muhammadiyah jelas oleh sang Ketua Muhammadiyah memberikan sebuah himbauan kepada warga Muhammadiyah untuk memberikan kebebasan kepada warganya dalam pemilihan presiden 2019. Tentu ini sangat bijak dan bagus mengingat Muhammadiyah bukan partai politik tapi organisasi keagamaan.
Sama halnya dengan Nahdhatul Ulama (NU) yang memberikan kebebasan kepada para Nahdliyin untuk membebaskan warganya menentukan presiden dalam pemilihan presiden 2019 nanti. Meskipun secara arah dukungan jelas barangkali sebagian besar suara kaum nahdliyin akan lari ke Jokowi-Ma'ruf Amin, mengingat KH. Ma'ruf Amin dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU). Dan rasanya itu sangat wajar. Tapi perlu diketahui kalangan Nahdliyin juga tumbuh dan berkembang diberbagai tubuh partai politik saat ini.
Sementara keinginan Ketua Muhammadiyah untuk memperlakukan hal yang sama kepada warga Muhammadiyah rupanya terbentur oleh kerasnya sikap Amien Rais. Sampai-sampai sang Ketua Umum pun oleh Amien bakal dijewer. Dan ini rasanya sangat tidak etis. Sangat merendahkan sekali seorang tokoh sekaliber Haedar Nasir.
Hal ini dapat kita baca pernyataan Amien rais berikut ini. Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mengutarakan ketidaksetujuannya pada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir karena memberi kebebasan bagi warga Muhammadiyah untuk menentukan pilihan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Amien Rais yang pernah menjabat sebagai Ketum Muhammadiyah bahkan mengaku bakal menegur Haedar Nasir jika tetap mengimbau warga Muhammadiyah untuk bebas memilih di Pilpres. "Akan saya jewer keras nanti," kata Amien, Selasa (20/11). Hal itu dikatakan Amien saat menghadiri Peringatan Milad ke-106 Muhammadiyah di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur. "Ini tahun politik, jangan sampai Haedar Nasir mengatakan untuk Pilpres Muhammadiyah terserah masing-masing, menurut saya itu bukan fatwa, itu penyelewengan," kata dia. -CNNIndonesia.com-
Kita lihat bagaimana seorang Amien Rais politisi yang sudah tua nan renta ini begitu berharap sekali warga Muhammdiyah diarahkan ke satu paslon saja. Sangat berbeda dengan sikap ketua Muhammadiyah Haedar Nasir yang lebih bijak dalam bersikap. Atau tokoh kalangan NU yang juga bijak dalam mensikapi pemilihan presiden saat ini.
Entah apa yang sedang ingin diraih seorang Amien Rais dalam hidupnya saat ini. Apakah dia masih berkeinginan untuk menjabat kembali di pemerintahan atau bagaimana? Nampaknya sangat tidak rela sekali jika 5 tahun ke depan harus menyaksikan seorang Jokowi kembali memimpin bangsa Indonesia ini. Kekesalan Amien Rais pun berlanjut dalam pernyataan-pernyataannya yang cukup keras. Dapat kita baca di bawah ini statementnya.
Bagi Amien, warga Muhammadiyah itu tersebar di sejumlah partai politik, di antaranya di PAN, PKS, PPP, dan Golkar. Artinya pada Pileg, Muhammadiyah boleh saja membebaskan kader-kadernya memilih sesuai pilihan masing-masing. Namun untuk Pilpres, kata dia, Muhammadiyah harus jelas memberikan dukungan. PAN, bersama Gerindra, Demokrat, PKS mengusung calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga uno.
"Pilpres hanya satu kursi dan menentukan, jadi kita tahu itu kabinet presidensial, presiden itu menentukan sekali, jadi untuk presiden haru jelas," ujar Amien. Warga Muhammadiyah, kata dia, haruslah memberikan dukungnya kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu. Kendati demikian, ia tak mau spesifik menyebut siapa nama pilihannya itu. "Sudah jelas, pilih yang tidak suka mengkriminalisasi ulama, yang tidak suka bohong janjinya, yang tidak segala macam lah, enggak usah menyebut nama," kata Amien.
Sungguh keblinger tokoh yang satu ini kelihatannya. Masih juga dengan narasinya yang menipu umat dan masyarakat. Tidak pilih yang mengkriminalisasi ulama? Ulama yang seperti apa? Kalau maksud dia untuk tidak memilih Jokowi karena disangka kriminalisasi ulama bukankah sekarang calon wakil presidennya adalah seorang ulama? Ini sama saja 'buta dan budek' yang bersangkutan persis seperti yang dikatakan oleh KH. Ma’ruf Amin di dalam menganalogikan seseorang yang tidak mau melihat fakta. Kemudian katanya lagi bohong janjinya? Bohong yang bagaimana? Bukankah masih ada waktu periode 2019-2024 yang mana akan melanjutkan program yang belum selesai di 2014-2019?
Makin tua kian aneh saja si Amien Rais ini. Bukannya menjadi pribadi yang bijak seperti mantan Ketua Muhammadiyah pada umumnya yang jauh lebih matang dan bijak sebagai tokoh bangsa tapi sebaliknya menjadi-jadi saja kelakuannya. Publik akhirnya membaca seorang Amien Rais itu sombong dan serakah. Mau tahu bukti kesombongannya? Dapat dibaca pernyataannya di bawah ini.
Amien bahkan meminta agar warga Muhammadiyah mau mengikuti arahannya, Sebab, ia menegaskan, dirinya adalah satu-satunya pimpinan yang bisa mendapatkan suara terbanyak, hal itu terjadi saat Muktamar 1998 lalu.
"Jadi dia (Haedar) keliru besar, saya ini juga ketua Muhammadiyah, ingat lho ya, tahun 1998 saya dipilih 98,5 persen itu legitimasinya tinggi sekali, sampai sekarang saya dengan Muhammadiyah," pungkasnya.
Lihat betapa sombongnya orang ini. Dan saya rasa sekarang sebagian besar warga Muhammadiyah menyesal pernah punya seorang Ketua Muhammadiyah yang membawa kepentingan organisasinya hanya untuk (kendaraan) kepentingan politiknya. Dan sekarang di sisa-sisa hidupnya sedang memperjuangkan untuk anak-anaknya. Demikian, Salam
No comments:
Post a Comment