
Ketika Grace Natalie menunjukkan rasa cintanya kepada negeri ini, ketika Grace menyampaikan kegelisahannya atas semakin tercabiknya persatuan, kesatuan, dan keharmonisan bangsa belakangan ini, Seketika saja ada yang kebakaran jenggot, yaitu mereka yang kepentingannya terusik.
Politikus muda berusia 36 tahun itu, sesungguhnya sedang berjuang untuk menjadikan Indonesia menjadi rumah yang nyaman tanpa memandang perbedaan. Ia sesungguhnya sedang berjuang untuk keutuhan bangsa Indonesia yang sangat dicintainya itu tanpa ada sekat-sekat yang membatasi setiap warga negara yang bhinneka.
Diakui atau tidak, Partai Solidaritas Indonesia, partai yang dipimpinnya itu, sedang tumbuh menjadi sebuah partai modern, partai yang lebih mengutamakan keadaban, partai yang mengedepankan gagasan, partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme, partai yang diisi oleh sekumpulan anak muda yang idealismenya masih menyala-nyala.
Hadirnya PSI di kancah perpolitikan nasional dengan gaya, tampilan, serta program kerja partai yang berbeda dengan partai-partai politik lainnya, menjadikan partai yang baru berusia empat tahun itu menjadi sebuah momok. Ia begitu menakutkan bagi mereka yang senang bermain-main dengan jabatannya, yang suka menggarong uang rakyat.
Meski masih seumur jagung, namun partai ini telah melahirkan para politikus handal yang begitu militan. Para politikus muda yang mendobrak kebiasaan buruk para politikus bermental korup di negeri ini. Para politikus yang bersuara lantang menentang “kesemena-menaan,” dan perilaku tidak beradab para wakil rakyat di Senayan sana.
Dan hal itu pula yang mengakibatan mengapa setiap gerak-gerik partai tersebut, setiap ucapan yang keluar dari mulut para kadernya, selalu mendapat perhatian lebih dari para politikus busuk di negeri. Mereka gemar mencari-cari kesalahan partai “milenial” itu. Dan, kesalahan kecil saja, akan segera digoreng hingga gosong segosong-gosongnya.
Sangat masuk akal memang mereka melakukan itu. Sebab jika saja PSI lolos ke Senayan tahun depan, bisa dipastikan, mereka akan “mengguncang” rumah wakil rakyat, yang oleh masyarakat dipersepsikan sebagai rumah besar untuk melakukan praktik kongkalikong, rumah untuk memperkaya diri, kelompok, dan keluarga para anggota dewan terhormat itu.
Para kader muda PSI itu, nantinya akan menjadi “terang” yang akan menerangi sudut-sudut gelap di gedung para wakil rakyat itu, yang selama ini kerap dijadikan sebagai tempat untuk merancang upaya pengkhianatan terhadap rakyat, sebagai tempat untuk melakukan tindakan amoral, tempat untuk melakukan praktik-praktik“jahat.”
Itu pula alasannya, kenapa pidato Grace Natalie pada saat acara HUT PSI beberapa hari lalu, yang dengan tegas menyuarakan bahwa PSI bertekad mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi, serta tidak akan pernah mendukung penerapan Perda Injil atau Perda Syariah di negeri ini, segera menjadi bahan pergunjingan di negeri ini. PSI lalu disamakan dengan PKI sebagai partai anti-agama.
Ada pula para politikus busuk, yang berkomentar tak karuan tanpa pernah mencoba memahami apa yang sebenarnya dimakasud oleh Grace. Bahkan, Eggi Sudjana, pengacara yang berada di barisan pendukung Prabowo-Sandi itu, tanpa berpikir panjang, segera melaporkan Grace ke polisi karena dinilai telah menistakan agama Islam.
Sekalipun Grace telah menjelaskan bahwa dirinya bukanlah seorang yang antiagama, bahwa ia tidak sedang menjelekkan agama manapun, namun justru bertekad untuk mengembalikan agama ke titahnya yang mulia, tetapi Eggi dan seluruh “sahabatnya” tetap saja berpendapat bahwa pernyataannya itu adalah bentuk penistaan agama.
Lalu, apakah Grace Natalie ciut karena tanggapan miring para penentangnya itu? Tidak. Ia justru semakin garang bersuara. Ia menganggap bahwa fitnah yang ia terima terkait penolakannya terhadap Perda Syariah itu justru membuatnya semakin bersemangat untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat tanpa memandang latar belakang.
Sebab sesungguhnya, masalah syariah yang dibicarakan Grace tersebut sudah selesai sejak masa kemerdekaan dulu. Para pendahulu bangsa ini telah menunjukkan rasa nasionalisme mereka, dengan mencabut frasa “kewajiban menjalanan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” dari Piagam Jakarta.
Jadi sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dan saya sangat yakin, para politikus busuk di negeri ini itu tahu benar tentang hal itu. Lalu kenapa PKS misalnya, menyebut PSI sebagai partai yang anti-Pancasila dan partai yang tidak paham UUD 1945? Sekali lagi, karena sesungguhnya, kepentingan mereka sedang terganggu. Atau, karena mereka memang tergolong ke dalam politikus busuk tadi.
Sebab justru karena cintanya kepada Pancasila, dan karena mereka paham betul UUD 1945, sehingga PSI berani berbicara begitu. Saya justru berpikir bahwa PKS-lah yang sedang menuduh dirinya sendiri sebagai partai yang anti-Pancasila dan UUD 1945. Sebab mereka sepertinya kurang mampu memaknai sila pertama Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Apakah PKS tidak melihat bahwa munculnya intoleransi dan diskriminasi di tengah masyarakat saat ini adalah sebagai akibat dari pemberlakuan Perda bernuansa agama tersebut? Sebab sejatinya, setiap warga negara harus diperlakukan sama tanpa harus memandang latar belakangan dan identitasnya. Sudah butakah mata hati PKS terhadap hal-hal sensitif seperti itu?
Apa yang sesungguhnya sedang diperjuangkan oleh Grace Natalie bersama PSI tersebut adalah agar bangsa ini kembali ke cita-cita awal para pendahulu kita. Yakni Indonesia sebagai negara yang beragama, bukan Indonesia sebagai negara agama. Sebab semakin ke sini, agama kelihatannya bukan lagi sebagai panduan moral, tapi menjadi alat politik, alat untuk menebar kebencian, atau alat untuk menghantam lawan.
Dan, penerapan Perda Syariah yang saat ini diterapkan di beberapa daerah di Indonesia, adalah salah satu contoh nyata. Sebab dengan Perda-perda berbasis agama tersebut, ada ruang serta kesempatan yang terbuka lebar, yang mengizinkan masyarakat bertindak diskriminatif dan intoleran.
Jadi, kita semestinya memuji ketegasan serta konsep perjuangan Grace Natalie bersama PSI. Negeri ini membutuhkan anak-anak muda pendobrak seperti Grace yang menjadi sebuah harapan baru bagi bangsa ini untuk memperjuangkan keindonesiaan, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan dalam kebhinnekaan.
No comments:
Post a Comment