
Seberapa sering tsunami terjadi di Indonesia?
Wilayah Indonesia rentan terhadap tsunami karena terletak di Cincin Api, sehingga gempa bumi dan letusan gunung berapi sering terjadi.
Pada September lalu, lebih dari 2.000 orang meninggal ketika gempa dahsyat menghantam wilayah tengah Pulau Sulawesi yang memicu tsunami di kota pantai Palu dan sekitarnya.
Pada 26 Desember 2004, serangkaian gelombang besar yang dipicu oleh gempa kuat di Samudera Hindia telah menewaskan sekitar 228.000 orang di 13 negara, yang sebagian besar korbanny adalah warga Aceh.
Hujan lebat disertai angin kencang melanda Pantai Anyer sejak Minggu dini hari hingga Senin pagi tadi.
Segelintir tamu hotel tempat kami menginap, menikmati sarapan dengan wajah was-was.
"Anginnya kencang banget," ujar sang bapak yang duduk bersama istri dan anak-anaknya.
Angin sepertinya identik dengan situasi yang terjadi saat tsunami menghantam.
Selain mereka, hanya ada saya dan beberapa wartawan lain serta para staf hotel yang bekerja.
Tetapi ternyata, ada juga tamu yang tetap memutuskan untuk melanjutkan niat mereka berlibur. Seperti Khaeruman.
Dia dan keluarganya datang dari Bogor ke Pantai Anyer tepat di malam tsunami menerjang.
"Saya belum tahu (ada tsunami) tuh, karena saya lagi menyetirwaktu itu," ujar Khaeruman kepada BBC. Dia baru mengetahui mengenai tsunami setelah tiba di Anyer.
Khaeruman bukannya tak takut, dia juga cemas tsunami kembali menerjang. Keluarganya pun sudah mewanti-wanti. "Tapi orang sini (hotel) memastikan kalau di sini aman, yang kena di sana katanya," ujarnya.
Khaeruman dan keluarganya pun sepakat untuk meneruskan saja agenda liburan mereka.ni kontras dengan ketakutan yang mencekam kebanyakan warga lokal. Mereka justru ramai-ramai mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi.
Aminah, misalnya, meski tidak terdampak tsunami Sabtu lalu, tetap memutuskan mengungsi hingga kondisi aman. "Mengungsi saja saya mah ke sini, takut. Takut laut. Kan dekat laut (rumah) saya mah," ungkapnya.
Aminah dan beberapa tetangganya menginap di posko relawan yang didirikan cukup jauh dari pantai.
Hari ini proses evakuasi masih akan dilakukan. Puluhan orang belum ditemukan setelah tsunami menghantam pesisir barat Jawa dan Lampung Selatan.
Ahmad Ridho, seorang wartawan yang kebetulan berada di pesisir pantai di Lampung Selatan saat tsunami menerjang pada Sabtu (22/12) malam merasa beruntung berhasil menyelamatkan diri.
“Saat itu pas lagi ada kawinan saya denger ada yang teriak 'tsunami! Tsunami!”, saya langsung lari menyelamatkan diri ke daerah dataran tinggi,” ungkapnya ke wartawan BBC News Indonesia Mehulika Sitepu.
“Laut saat itu tenang, tidak ada ciri-ciri mau kejadian (tsunami). Tiba-tiba saja gelombang besar langsung menghantam. Itu gelombang pasang sekitar 5 meter tingginya, saat kejadian jam 9 malam.”
Ia berkisah, pula, saat gelombang tsunami menghantam, lampu menjadi padam.Saat ini Ridho berada di desa Way Muli, kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan -- desa dengan terdampak tsunami terparah di Lampung.
Ia menggambarkan bahwa “rumah-rumah yang ada di pesisir pantai rusak parah, rata dengan tanah.”
Sebagian besar korban adalah orang-orang yang berada sekitar pantai saat kejadian.
“Saat ini masih dilakukan evakuasi korban, korban luka-luka untuk di bawa ke rumah sakit di Kalianda.”
“Jalur evakuasi sudah dilalui kendaraan roda empat yang sebelumnya sempat tertutup oleh puing-puing bangunan rumah warga yang rusak . Diturunkan tiga buah alat berat untuk membuat bahu jalan agar bisa dilalui kendaraan-kendaraan yang akan memberikan bantuan. Untuk saat ini bantuan medis sudah stand by," katanya.
Dia juga memaparkan bahwa saat ini di desa Way Muli, air dan listrik masih padam dan warga sangat membutuhkan air dan makanan siap saji.
No comments:
Post a Comment