
Bencana banjir, longsor dan puting beliung Sulawesi Selatan (Sulsel) memaksa ribuan warga masih mengungsi di posko-posko pengungsian.Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Benacana) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sebagaian warga merasa lebih aman di pengungsian karena trauma dengan banjir dan longsor yang melanda wilayahnya.
"6.757 orang mengungsi, kerusakan fisik meliputi 550 unit rumah rusak 33 unit hanyut, 459 rusak berat, 30 rusak sedang, 23 rusak ringan, 5 tertimbun), 5.198 unit rumah terendam," ujar Sutopo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (27/1/2019).
Sutopo memaparkan data daerah yang paling parah mengalami dampak banjir dan longsor, yakni Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Jeneponto, Marros dan Wajo.
"Kabupaten Gowa tercatat 2.121 orang mengungsi, 10 rumah rusak dimana 5 rusak berat dan 5 tertimbun, 604 rumah terendam, dan 1 jembatan rusak. Sementara kota Makasar 1.000 orang mengungsi, 477 rumah terendam," jelas Sutopo.
Kabupaten Janeponto 3.276 orang mengungsi, 470 rumah rusak (438 unit rumah rusak berat, 32 hanyut), 15 jembatan, 1.304 ha sawah terendam, dan 41 sekolah rusak.
Sedangkan di kabupaten Maros 1200 orang terdampak, 251 orang mengungsi, 552 unit rumah terendam, 8.295 ha sawah, 1 fasilitas peribadatan rusak.
Kabupaten Wajo tercatat 2.705 orang terdampak, 2.421 rumah terendam, 16,2 km jalan, 2.025 Ha sawah terendam, 9 jembatan rusak, 10 fasilitas peribadatan, 21 fasilitas pendidikan, 5 fasilitas pemerintah mengalami kerusakan.
"Kabupaten 109 mengungsi, 53 rumah rusak yairu 15 rusak berat, 28 rusak sedang, 9 rusak ringan dan 1 rumah hanyut, 2 fasilitas pemerintahan, 1 jembatan, 1 fasilitas pendidikan," ungkap Sutopo.
Bencana banjir, longsor serta angin puting beliung yang melanda Sulsel pada Selasa, 22 Januari 2019 lalu. Bencana tersebut telah memaksa ribuan warga yang terdampak harus mengungsi di posko pengugsian dikarenakan kerusakan lingkungan serta tempat tinggal para warga.
No comments:
Post a Comment