Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Tuesday, 19 February 2019

BPN: Prabowo Tak Gagap Unicorn, Jokowi Berupaya Tutupi Kebohongan

Pilpres 2019: Bagaimana Keluarga Kristen Prabowo Tenangkan Kekhawatiran Minoritas

Debat Capres 2019 edisi kedua meninggalkan beberapa hal yang menjadi buah bibir para pendukung kedua kubu, salah satunya adalah polemik soal unicorn. TKN menuding Prabowo tak paham soal unicorn, dan Prabowo yang tampak bingung saat ditanya soal kebijakan terkait infrastruktur unicorn oleh Jokowi pun di-bully di media sosial. Semnetara itu, pendukung kubu 02 pun Perang tagar #JokowiBohongLagi versus #02GagapUnicorn pun memanas di media sosial.
Calon presiden dari kubu 02 Prabowo Subianto dinilai tak paham soal unicorn oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, ketika ditanya mengenai hal tersebut oleh petahana dari kubu 01, Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada debat capres kedua. Namun tudingan tersebut segera ditepis Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.
“Pak Prabowo tentu mengerti soal itu. Tapi hari itu kan debatnya temanya beda. Industri digital nggak dibahas, bukan tema debat,” kata Juru Bicara BPN Andre Rosiade, seperti dikutip Detik.com, Senin (18/2).
Menurut penjelasan Andre, pertanyaan soal infrastrukur unicorn yang dilontarkan Jokowi justru melenceng dari tema debat. Permasalahan terkait revolusi industri 4.0 memang tak masuk tema debat capres edisi kedua, yang dilangsungkan pada hari Sabtu (17/2).
Diketahui, Debat Kedua Pilpres 2019 mengangkat tema Energi, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup.
“Jadi bukannya Pak Prabowo nggak paham, bukannya gagap unicorn,” katanya.
Politikus dari Partai Gerindra tersebut juga menuding bahwa pertanyaan soal unicorn itu juga sudah direncanakan oleh kubu Jokowi. Dia menilai, pertanyaan itu dilontarkan untuk menutup-nutupi kebohongan-kebohongan Jokowi selama debat berlangsung.
“Pertanyaan itu memang sudah diskenariokan TKN supaya seolah Pak Jokowi menguasai masalah dan terkesan dipakai sebagai panggung untuk menutupi kebohongan dia. Karena dia banyak melakukan kebohongan-kebohongan yang dilakukan saat debat kemarin,” kata Andre.
Andre pun kemudian menyebutkan tentang adanya 11 kebohongan Jokowi yang dilontarkan selama debat, mulai dari data impor jagung, total produksi dan total konsumsi beras tahun 2019, hingga mengenai data kebakaran hutan.
“Pak Jokowi bilang sejak 2015 tidak pernah terjadi kebakaran hutan, padahal data menunjukkan bahwa pada tahun 2016-2018 telah terjadi kebakaran lebih dari 30.000 hektar lahan hutan,” ujarnya. “Jadi itu untuk menutupi kebohongan Pak Jokowi aja itu.”
Selama pembahasan lingkungan hidup pada debat kedua, Jokowi dinilai mencetak dua kali blunder, yakni data yang kurang tepat. Yang pertama adalah soal penanganan kebakaran hutan, dan yang kedua adalah konflik karena pembangunan infrastruktur.
Sebagai contoh, seperti dilaporkan Tribunnews.com, Jokowi menglaim dalam pembangunan infrastruktur tak ada konflik yang terjadi. Mengenai hal tersebut, Adhityani Putri dari Yayasan Indonesia Cerah menyebutkan bahwa infrastruktur justru menimbulkan banyak konflik. Salah satu contohnya adalah bagian dari program listrik 35.000 megawatt yang dibangun di Batang, Jawa Tengah.
“Pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur energi khususnya PLTU batubara menimbulkan konflik hebat di masyarakat,” kata Adhityani, seperti dilansir Tribunnews.com.
Menurut penjelasannya, masyarakat sekitar menolak untuk pindah dan memilih untuk mengajukan gugatan di pengadilan.
Senada dengan Adhityani, peneliti Auriga Iqbal Damanik mengungkapkan bahwa pada tahun 2017 lalu, pembangunan infrastruktur menempati urutan ketiga penyebab konflik agraria, yang membukukan total 94 konflik. Sementara itu, tahun 2018, terjadi 16 konflik akibat pembangunan infrastruktur.
Contoh lain, saat menerangkan soal masalah pembalakan liar, Jokowi mengatakan ada 11 perusahaan yang telah diberi sanksi denda sebesar total 18,3 triliun. Namun sayangnya data ini juga kurang tepat. Memang pemerintah sudah lebih tegas dalam menangani pembalakan liar, tapi nyatanya “belum ada putusan yang dieksekusi pengadilan (terhadap pelaku pembalakan liar),” menurut Adhityani.
Masih soal pembalakan liar, Iqbal pun memaparkan bahwa kerugian akibat pembalakan liar di Papua sudah mencapai Rp1,6 triliun.
Sebelumnya, TKN sempat menyatakan Prabowo gagap unicorn, dan tidak memahami istilah dalam industri 4.0.
“Unicorn kan istilah yang lazim di dalam industri 4.0 dan itu adalah sesuatu yang biasa digunakan generasi milenial,” kata juru bicara TKN Ace Hasan Syadzily. “Jadi Pak Prabowo aja yang nggak ngerti. Itu kelihatan sekali Pak Prabowo gelagapan, jadul banget.”
Keterangan foto utama: Calon presiden Indonesia Prabowo Subianto berbicara tentang membela Islam di Jakarta, 2 Desember 2018. (Foto: NurPhoto via AFP/Anton Raharjo)

No comments:

Post a Comment