Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, 20 March 2019

Debat Cawapres Soroti Sistem Pendidikan Indonesia yang Terabaikan

Dalam debat cawapres yang disiarkan Minggu (17/3), kedua calon presiden sepakat bahwa sistem pendidikan Indonesia perlu diperbaiki. Penelitian dari Lowy Institute menemukan, masalah seputar pendidikan di Indonesia mencakup kesempatan kerja bagi lulusan sekolah kejuruan dan ketidakefektifan dana yang dialokasikan untuk penelitian. Untuk mengatasi permasalahan ini, Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin memiliki gagasan yang berbeda. 
Oleh: Stanley Widianto (VOA)
Dalam debat cawapres pertama di Indonesia menjelang Pilpres 2019 17 April mendatang, kedua kandidat—pengusaha Sandiaga Uno dan ulama Islam terkenal Ma’ruf Amin—menyepakati satu masalah: sistem pendidikan Indonesia perlu diperbaiki.
Debat pada Minggu (17/3) tersebut melibatkan empat tema utama: budaya, kesehatan masyarakat, pekerjaan, dan pendidikan, dengan tujuan agar Indonesia menjadi kompetitif secara internasional pada tahun 2025 dan mencapai “revolusi industri 4.0″—menggambarkan pasar yang semakin kompetitif bagi tenaga kerja .
Seperti yang diangkat dalam debat tersebut atau diuraikan oleh penelitian tahun 2018 oleh wadah pemikir Lowy Institute yang berjudul Beyond Access: Making Indonesia’s Education System Work, masalah seputar pendidikan di Indonesia mencakup kesempatan kerja bagi lulusan sekolah kejuruan dan ketidakefektifan dana yang dialokasikan untuk penelitian.

PELUANG KERJA

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), lulusan sekolah kejuruan berada di urutan tertinggi di antara para pengangguran di Indonesia.
Dengan tujuan mengurangi pengangguran di kalangan masyarakat muda sebanyak 2 juta orang, Sandiaga—pasangan calon presiden Prabowo Subianto—mengusulkan untuk menciptakan pusat pelatihan bagi lulusan baru, memberikan insentif, dan ruang kerja bersama.
Dua orang mengendarai sepeda motor melewati spanduk kampanye untuk calon presiden Indonesia Prabowo Subianto (kiri), dan pasangannya Sandiaga Uno di Jakarta, Indonesia, 17 Januari 2019. (Foto: AP)
“Kami melihat bahwa masalah utama adalah tidak adanya keterkaitan antara apa yang disediakan lembaga pendidikan dan apa yang dituntut oleh tenaga kerja,” katanya.
Demikian pula, Ma’ruf—calon wakil presiden Joko Widodo—mengidentifikasi dua cara untuk mengatasi masalah tersebut.
“Kami akan merevitalisasi sekolah kejuruan, politeknik, dan akademi, dan kami akan menyesuaikannya dengan apa yang akan ditanggung pasar,” katanya.
Jika terpilih, kata Ma’ruf, tim akan merilis “kartu pra-kerja” dan memberikan insentif antara enam bulan hingga satu tahun setelah lulus dari sekolah kejuruan.
Ma’ruf juga menegaskan kembali program kubunya tentang “dana abadi” untuk tujuan penelitian, yang awalnya diumumkan pada awal tahun ini. Sandiaga mengusulkan restrukturisasi lembaga penelitian, dengan mencatat bahwa “kolaborasi” dan “sinergi” antara pemerintah dan badan-badan penelitian adalah kunci.

PENDIDIKAN

Psikolog anak dan pakar pendidikan Najeela Shihab mengatakan kepada VOA, bahwa perdebatan itu terasa “tidak lengkap.” Dia mengatakan bahwa topik seputar pendidikan seharusnya bisa lebih diperhatikan.
“Saya mengerti bahwa pendidikan belum menjadi prioritas,” katanya. “Pendidikan bukan hanya masalah politik atau makanan untuk kontestasi politik. Siapa pun yang terpilih, perlu memiliki peta jalan untuk 20 hingga 30 tahun ke depan. Di Indonesia, masalah utama kami terkait kebijakan seputar pendidikan adalah, bahwa itu terus berubah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan, ‘Dengan menteri baru, ada kurikulum baru.'”
Ma'ruf Amin
Debat cawapres pada Minggu (17/3) adalah debat ketiga dari lima debat menjelang Pilpres 2019. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa paslon Jokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandiaga, dengan angka 57,6 persen banding 31,8 persen, menurut pusat penelitian Saiful Mujani Research and Consulting.
Menurut Lowy Institute, masalah utama dengan sistem pendidikan Indonesia bukanlah akses, tetapi keefektifan. Masalah seperti birokrasi yang berbelit-belit dan kurangnya pelatihan guru terus merusak sistem yang bermasalah.
“Sistem pendidikan negara menghadapi lulusan dengan jumlah yang tinggi namun kualitas rendah, yang tidak memenuhi ambisi negara untuk sistem ‘kompetitif secara internasional’,” tulis kontributor Lowy Institute Andrew Rosser di situs web organisasi tersebut.
Shihab mengatakan bahwa meskipun Indonesia berhasil memasukkan 56 juta anak ke sekolah, namun masih ada masalah luar biasa terkait akses.
“Ada masalah dengan kualitas pendidikan, juga, seperti masih ada guru yang tidak datang ke kelas,” katanya. “Dan ada juga anak-anak yang tidak bersekolah, terutama mereka yang sudah bekerja atau mereka yang tidak memiliki akta kelahiran.”
Solusi untuk masalah penting lainnya tidak berhenti pada debat ini, Shihab menambahkan.
“Masih ada masalah penting seperti potensi pertumbuhan di kalangan siswa, hak-hak dasar dan nilai-nilai demokrasi. Saya harap perhatian untuk pendidikan terus berlanjut.”
Keterangan foto utama: Kandidat presiden Indonesia Joko Widodo (kiri), berbicara di samping kandidat wakil presidennya Ma’ruf Amin saat debat di televisi dengan lawan-lawannya, Prabowo Subianto dan kandidat wakil presiden Sandiaga Uno di Jakarta, Indonesia, 17 Januari 2019. (Foto: Bloomberg)

No comments:

Post a Comment