Sekitar tahun 1812,
pada masa pemerintahan Inggris (1810-1817), 2 tahun sesudah Perang Minahasa di
Tondano, Pemerintah mengadakan penataan kota Tondano dengan membuat
jalan-jalan di kota Tondano, yang memanjang dari Utara ke Selatan dan
jalan-jalan melintang dari Timur ke Barat. Jalan-jalan ini pula
yang menjadi batas antar Kampung (Kelurahan) sampai sekarang. Penduduk
sudah mulai teratur pemukimannya dan khusus dalam Wilayah pelayanan Jemaat Sion
(yang dalam tulisan ini disebut Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”) terdiri
dalam territorial Kampung Kelurahan Kendis, Wengkol, Ranowangko dan
Luan, yang pada waktu itu sudah banyak pemukimnya.
Pada tahun 1817, Pemerintahan diserahkan lagi kepada Pemerintah Belanda dimulailah pada saat itu pemerintah Belanda mengangkat Kepala-kepala Walak yang tunduk kepada Belanda. Kepala-kepala walak ini diberi wewenang membentuk kelompok-kelompok penduduk dalam suatu pemukiman (koloni/kampung) dan membuka areal-areal hutan menjadi tempat berkebun Mereka diwajibkan menanam tanaman (kopi) seperti di areal perkebunan Sisipen, disamping tetap mengerjakan/mengolah sawah sebagai sumber beras untuk bahan makanan. Pada tahun 1825, didatangkanlah dari Pulau Jawa rombongan Kyai Mojo berjumlah 63 orang (buangan oleh Pemerintah Belanda), dan ditempatkan disuatu areal yang diapit dan berbatasan sebelah Utara dengan Desa Tonsea Lama, Sebelah Timur dengan Kelurahan Wulauan , Sebelah Barat Kampung/Kelurahan Luaan sebelah Selatan dengan Kampung Kelurahan Ranowangko.
Pada tahun 1829, wilayah pemerintahan kota Tondano dibagi dua dari Utara ke Selatan: Sebelah Timur dengan nama Distrik Toulimambot dan sebelah Barat dengan nama Distrik Touliang, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Walak (Kumbasar). Kepala-kepala walak itu membawahi Kepala-kepala kampung (Desa/Kelurahan) yang disebut Ukung tu’a (Kuntua sekarang Lurah) termasuk 4 Kampung (Kelurahan) yang didiami oleh Anggota Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”. Keyakinan penduduk tentang kuasa Allah, sudah nampak dalam kebiasaan serta adat istiadat dalam kehidupan masyarakat yang ditandai dengan yang mereka lakukan seperti antara lain :Setiap ada niat, maksud dan rencana perombakan hutan, pembukaan tanah garapan untuk bercocok tanam, panenan, membangun rumah, naik rumah baru, (sumolo/ pemasangan lampu), merantau menikahkan anak,melahirkan anak dan acara-acara tradisional dan lain-lainnya, diawali dengan memohon petunjuk OPO EMPUNG, yang dianggap/diyakini dan disembah sebagai penguasa alam semesta dan segala isinya dengan tanda suara burung Loyot (burung Manguni) sebagai bukti perkenanan TUHAN atas rencana permohonannya (band. Kisah 17:23).
Khusus penduduk di wilayah Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”, pada masa itu menurut silsilah keluarga yang lahir pada tahun 1800-an, ada yang diberi nama: LUKAS, SIMON, NICODEMUS, ESTEFANUS dll. Nama-nama yang dikutip dari kitab Injil sudah diadopsi oleh masyarakat sebagai pengaruh atas suatu misi Gereja Katolik pada tahun 1568 di Minahasa oleh Pater Diego Magelhais. Kemudian berturut-turut pada tahun 1660 penjajah Spanyol dan Portugis diusir oleh bakal penjajah Belanda. Karena penjajah Belanda ini beragama Kristen Protestan maka dibawalah Pendeta-pendeta Kristen Protestan yang melayani tentara-tentara Belanda masuk di Minahasa. Pada tahun 1700 tercatat sudah ada ± 25.000 orang Kristen yang tersebar dipesisir pantai Minahasa. Oleh karena itu tidak heran kalau 2 tahun sesudah Perang di Minahasa di Tondano ( 1808-1809), setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Belanda kepada Inggris dilakukanlah pembaharuan perjanjian yang dibuat pada tanggal 14 September 1810, tersirat bahwa orang-orang Tondano yang sedang berperang melawan Kompeni Inggris telah memiliki pemahaman religi yang bernafaskan Injil seperti nyata dalam pasal 10 perjanjian Minhasa Inggris yang terjemahannya sebagai berikut : Kami, Kepala Walak dan Ukung Manado (Minahasa), bersumpah dan berjanji bahwa kami tak akan berbuat dosa lagi dengan cara melakukan penyiksaan-penyiksaan yang mengerikan. Karena dngan demikian, murka Allah akan berlaku atas kami.
Pada tahun 1817, Pemerintahan diserahkan lagi kepada Pemerintah Belanda dimulailah pada saat itu pemerintah Belanda mengangkat Kepala-kepala Walak yang tunduk kepada Belanda. Kepala-kepala walak ini diberi wewenang membentuk kelompok-kelompok penduduk dalam suatu pemukiman (koloni/kampung) dan membuka areal-areal hutan menjadi tempat berkebun Mereka diwajibkan menanam tanaman (kopi) seperti di areal perkebunan Sisipen, disamping tetap mengerjakan/mengolah sawah sebagai sumber beras untuk bahan makanan. Pada tahun 1825, didatangkanlah dari Pulau Jawa rombongan Kyai Mojo berjumlah 63 orang (buangan oleh Pemerintah Belanda), dan ditempatkan disuatu areal yang diapit dan berbatasan sebelah Utara dengan Desa Tonsea Lama, Sebelah Timur dengan Kelurahan Wulauan , Sebelah Barat Kampung/Kelurahan Luaan sebelah Selatan dengan Kampung Kelurahan Ranowangko.
Pada tahun 1829, wilayah pemerintahan kota Tondano dibagi dua dari Utara ke Selatan: Sebelah Timur dengan nama Distrik Toulimambot dan sebelah Barat dengan nama Distrik Touliang, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Walak (Kumbasar). Kepala-kepala walak itu membawahi Kepala-kepala kampung (Desa/Kelurahan) yang disebut Ukung tu’a (Kuntua sekarang Lurah) termasuk 4 Kampung (Kelurahan) yang didiami oleh Anggota Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”. Keyakinan penduduk tentang kuasa Allah, sudah nampak dalam kebiasaan serta adat istiadat dalam kehidupan masyarakat yang ditandai dengan yang mereka lakukan seperti antara lain :Setiap ada niat, maksud dan rencana perombakan hutan, pembukaan tanah garapan untuk bercocok tanam, panenan, membangun rumah, naik rumah baru, (sumolo/ pemasangan lampu), merantau menikahkan anak,melahirkan anak dan acara-acara tradisional dan lain-lainnya, diawali dengan memohon petunjuk OPO EMPUNG, yang dianggap/diyakini dan disembah sebagai penguasa alam semesta dan segala isinya dengan tanda suara burung Loyot (burung Manguni) sebagai bukti perkenanan TUHAN atas rencana permohonannya (band. Kisah 17:23).
Khusus penduduk di wilayah Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”, pada masa itu menurut silsilah keluarga yang lahir pada tahun 1800-an, ada yang diberi nama: LUKAS, SIMON, NICODEMUS, ESTEFANUS dll. Nama-nama yang dikutip dari kitab Injil sudah diadopsi oleh masyarakat sebagai pengaruh atas suatu misi Gereja Katolik pada tahun 1568 di Minahasa oleh Pater Diego Magelhais. Kemudian berturut-turut pada tahun 1660 penjajah Spanyol dan Portugis diusir oleh bakal penjajah Belanda. Karena penjajah Belanda ini beragama Kristen Protestan maka dibawalah Pendeta-pendeta Kristen Protestan yang melayani tentara-tentara Belanda masuk di Minahasa. Pada tahun 1700 tercatat sudah ada ± 25.000 orang Kristen yang tersebar dipesisir pantai Minahasa. Oleh karena itu tidak heran kalau 2 tahun sesudah Perang di Minahasa di Tondano ( 1808-1809), setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Belanda kepada Inggris dilakukanlah pembaharuan perjanjian yang dibuat pada tanggal 14 September 1810, tersirat bahwa orang-orang Tondano yang sedang berperang melawan Kompeni Inggris telah memiliki pemahaman religi yang bernafaskan Injil seperti nyata dalam pasal 10 perjanjian Minhasa Inggris yang terjemahannya sebagai berikut : Kami, Kepala Walak dan Ukung Manado (Minahasa), bersumpah dan berjanji bahwa kami tak akan berbuat dosa lagi dengan cara melakukan penyiksaan-penyiksaan yang mengerikan. Karena dngan demikian, murka Allah akan berlaku atas kami.
Pada tahun 1817 seorang pekabar Injil bernama Josef Kam
(disebut Rasul Maluku) datang melihat keadaan Jemaat Kristen
di Minahasa. Jumlah anggota tinggal ± 3000 orang. Karena tidak ada pelayanan.
Kemudian Pendeta Josef Kam (satu-satunya pendeta Gereja Protestan di
Indonesia Timur dan memiliki jiwa zendeling) menyurat dan
meminta kepada Badan Pekabaran Injil di Belanda yakni NZG agar mengirimkan
utusan-utusan penginjil di Minahasa. Pada waktu Ds. G.J.
Hellendoom bertugas sebagai pendeta di Manado (mulai tahun
1827) setelah mengadakan perjalanan ke pedalaman , ia
mendesak Pengurus NZG agar mengirim utusan-utusan Injil ke
Minahasa, sehingga ia dijuluki Gronlegger van Zendeling in de Minahasa (
Peletak dasar kegiatan pekabaran Injili di Minahasa). Atas petunjuk
Ds. G.J. Hellendoom , maka pada waktu Pdt.Johann Friedrich Riedel dan Johann
Gottlieb Schwarz tiba di Manado dari Ambon pada tanggal 12 Juni 1831, Riedel
dan Schwarz sebagai zendeling yang pertama masuk di Minahasa kemudian
ditempatkan di Tondano (Riedel) dan Langowan (Schwarz).
Setelah selama ±4 bulan Pdt.Johann
Friedrich Riedel di Manado dengan mempelajari bahasa, watak, adat istiadat dan
kebudayaan orang-orang Tondano, maka pada tanggal 14 Oktober 1831, barulah ia datang di Tondano. Ia
lebih memperdalam bahasa Tondano dengan mengintegrasikan dirinya dalam
pergaulan dengan masyarakat. Ada sekitar ± 100 orang yang
telah mengenal kekristenan walaupun pemahaman mereka masih sangat
kurang. Karena itu usaha pertama Riedel dalam kegiatan penginjilan dengan
memberi perhatian pada sekolah yang sudah ada serta mengadakan pendekatan
dengan penduduk mengenai kehidupan sesehari serta perkunjungan rumah tangga.
Perhatian Riedel terhadap orang-orang sakitpun sangat besar.
Pendekatan terhadap masyarakat Tondano ditopang oleh isterinya yang
sangat berperan dalam menciptakan suasana yang sangat bersahabat apabila
ada percakapan-percakapan dengan penduduk di rumah tempat tinggal
Riedel. Kegiatan selanjutnya adalah mengupayakan pendidikan
bagi tenaga-tenaga pribumi untuk menyebar-luaskan kepercayaan
“kekristenan dalam hati” (paham pietisme), dan memberi ruang
bagi bertumbuhnya kehidupan gerejawi bergaya Minahasa. Salah satu
pokok penting tentang pelaksanaan baptisan agar jangan dilakukan
secara terburu-buru. Ketulusan keyakinan seseorang calon baptisan harus menjadi
kriteria utama bagi pembaptisannya. Dilakukannya demikian setelah
ia mempelajari daftar baptisan di Tondano dari abad ke 18 dan sangat
terkejut setelah membaca tentang baptisan masal yang pernah dilaksanakan tanpa
persiapan dan ujian. Sedangkan pandangannya tentang baptisan adalah: “Siapa
yang mau menjadi Kristen tidak boleh bermaksud lain selain mencari
keselamatan jiwanya; Ia harus meninggalkan kepercayaan dan kebiasaan
agama suku (alifuru); Ia harus mengaku percaya kepada Allah yang benar
dan Esa dan kepada Yesus Kristus Anak-Nya Sang Penebus; Ia harus
berjanji akan hidup selaku orang Kristen sebagai ungkapan syukur atas
anugerah-Nya. “Melalui pendekatan rangkap (pendidikan dan pengajaran
Kristen) Riedel menyatukan diri dan keluarganya dengan masyarakat
yang ada di Tondano. Perkembangan orang Kristen di Tondano
meningkat setelah dibaptisnya seorang tokoh agama suku (walian) pada tahun
1834, sehingga sesudah Riedel bekerja melayani selama 8 tahun
maka pada tahun 1839, didirikanlah bangunan Gereja (dikompleks Gereja
Sentrum sekarang) dengan 800 tempat duduk. Bersamaan dengan itu didirikan
pula tempat-tempat pertemuan/tempat beribadah di sore hari. Dengan cara
pendekatan yang dilakukannya berbuah yang sangat mengherankan sehingga pada
tahun 1850,
penduduk Tondano yang
dibaptis mencapai 70%.
Ada cerita tentang pertemuan pertama
Pdt. Riedel pada saat berkunjung di tempat kediaman Walian tersebut
(Dotu Sumanti) berupa rumah panggung yang terletak dikintal Puterpra
dulu di Kelurahan Kendis. Setelah tiba dimuka rumah Sumanti, ia memanggil
si Walian dan terjadilah dialog sbb :
Riedel : O patuariku
Sumanti ko manakan ? ( Hai saudaraku Sumanti apakah engkau
ada ?)
Walian : Patuariku wisa ko,
ko kulo’ (Saudaraku dari mana kamu,, kulitmu putih)
Riedel :
Penampa’an’ku waki katerungan di êndo. Ni’itu mou ku kulo’ Ku
nêi rêomi ni Telu matuari, si siminalar kaoatan
yê’i, nêi sêron si patuarimu Sumanti waki Toudano. ( Saya
berasal di tempat yang terlindung cahaya matahari.Saya
disuruh/diperintahkan oleh Allah Tritungga , untuk datang cari /menemui
saudaramu Sumanti di Tondano.)
Walian : Em, sa
tuana lumongkoti (sambil menurunkan tangga). ( Em, kalau demikian, silahkan
naik)
Riedel : (Riedel kemudian
naik kerumah panggung itu)
Walian : Rumuber, tumenga’ (Silahkan duduk, silahkan makan pinang)
Walian : Rumuber, tumenga’ (Silahkan duduk, silahkan makan pinang)
Riedel kemudian duduk dan menerima tawaran
Walian Sumanti untuk mengunyah pinang. Setelah itu terjalinlah
hubungan antara mereka sehingga memudahkan Riedel untuk menjelaskan tentang
siapa Allah Tritunggal itu. Dalam waktu yang
singkat, Dotu Sumanti bersama 6 (enam) orang pembantunya menerima untuk
dibaptiskan di kali kecil di belakang Kantor PLN Ranting Tondano sekarang.
(Dituturkan oleh Bapak Willy Wakary)
Selama hampir 30 tahun Riedel bekerja di
Minahasa berpusat di Tondano telah membaptis 9341 orang dan menerima/meneguhkan
sebanyak 3851 anggota menjadi sidi jemaat. Dalam pelayanan Riedel juga dibantu
oleh para saksi baptisan yang turut mengambil alih tugas pengajaran dan
bimbingan kepada para calon baptisan. Tradisi saksi baptisan dibawa
Riedel dari Gereja di Jerman, dan pengajaran baptisan dilaksanakan dalam
“kampongan” yaitu ibadah yang dilaksanakan dengan membentuk
kelompok-kelompok katekhisasi baptisan dan pengajaran sidi.
Baptisan dan Perjamuan Kudus ( 2 jenis sakramen yang diakui oleh Gereja
Protestan) dipisahkan. Mereka yang telah dibaptis dan menjadi calon anggota
sidi jemaat, harus tambah belajar dengan memperdalam pemahaman tentang
ajaran-ajaran dalam Alkitab, agar supaya pengakuannya lebih teliti,
mendalam dan mendasar. Perjamuan Kudus yang dilaksanakan oleh Riedel pada
masa itu tidak lebih dari 2 kali dalam setahun. Karena keseriusannya tentang
Perjamuan Kudus ia menekankan : “ Dengan takut dan
gentar, dengan mencucurkan air mata dalam ketakutan bahwa siapa yang minum dan
makan dengan tidak berlayak akan memberatkan hukuman .”
Methode pelayanan Riedel menempatkan pengajaran sebagai misi utama, sehingga ketika Riedel tiba di Tondano baru terdapat 4 sekolah di wilayah kerjanya, setelah dua puluh satu tahun kemudian (1852) sudah ada 16 sekolah dengan sekitar 1500 murid. Bagi setiap orang yang meminta dibaptis berlaku syarat sebagai berikut :
Methode pelayanan Riedel menempatkan pengajaran sebagai misi utama, sehingga ketika Riedel tiba di Tondano baru terdapat 4 sekolah di wilayah kerjanya, setelah dua puluh satu tahun kemudian (1852) sudah ada 16 sekolah dengan sekitar 1500 murid. Bagi setiap orang yang meminta dibaptis berlaku syarat sebagai berikut :
- Kalau ia tidak terlalu tua, ia
harus tahu membaca
- Ia harus berjanji akan
menyekolahkan anaknya
- Perkawinannya harus diberkati
di gereja
Dalam pelayanan/pemberitaan disampaikan dalam bahasa pribumi. Dalam ibadah Minggu dipergunakan bahasa Melayu, dilanjutkan dengan “salinan” pada sore hari yaitu khotbah yang diucapkan dalam bahasa Melayu di Gereja (Sentrum sekarang), diulangi dalam bahasa setempat (Tondano) di tempat-tempat ibadah/pertemuan jemaat., yang kemudian dikembangkan menjadi kelompok belajar Alkitab yaitu pada hari Senin dan Kamis malam. Walaupun dikemudian hari bahasa Melayu sudah dipakai oleh masyarakat/jemaat tetapi ibadah “salinan” tetap berarti dan dilaksanakan sampai sekarang.
Pada tahun 1852 Riedel jatuh sakit dan tidak bekerja lagi sampai ia wafat pada tanggal 12 Oktober 1860 di Tondano dimakamkan di pekuburan umum di Kelurahan Ranowangko Tondano.
Berikut adalah daftar beberapa pendeta NZG yang melayani di Tondano.
Pdt. J.F. Riedel 1831 – 1852
Pdt H.W. Nooij 1852 - 1853
(meninggal karena
penyalit perut pada 21/12-1853)
Pdt. J.H. Rooker 1854 - 1905
Pdt. Langevord 1906 – 1920.
Pdt. J.H. Rooker 1854 - 1905
Pdt. Langevord 1906 – 1920.

No comments:
Post a Comment