Adsense

TAWARAN SPONSORSHIP/IKLAN

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, 12 December 2018

Petisi Stop Iklan Blackpink Tidak Proporsional, Gara-Gara Penggagasnya Tidak Punya TV

Petisi Stop Iklan Blackpink Tidak Proporsional, Gara-Gara Penggagasnya Tidak Punya TV

Petisi yang meminta penghentian tayangan iklan Shopee dengan bintang iklan kelompok penyanyi dari Korea Selatan, Blackpink jadi perbincangan ramai di media sosial khususnya. Bahkan kabarnya sudah merambah ke luar negeri. Banyak yang pro, banyak pula yang kontra. Yang pro, tentu ikutan menandatangani petisi. Sampai saat ini, sudah ada 114.735 orang yang menandatangani petisi ini. Yang kontra, juga banyak. Mereka mengecam adanya petisi ini, lihat saja berbagai komentar pedas di Instagram, Facebook, Line dan di kolom komentar artikel berita di media.
Ada beberapa fakta yang diungkap oleh tribunnews.com, terkait penggagas petisi ini, Maimon Herawati. Ini perlu saya kutip, untuk mendasari kenapa saya berpendapat bahwa petisi ini tidak proporsional.
Dilansir tribunnews.com, Maimon adalah seorang dosen jurnalistik di Universitas Padjadjaran. Maimon juga pernah kuliah di luar negeri, di Abertay University, Inggris. Maimon mengaku sekarang tidak punya akun Instagram. Dulu ada namun katanya hilang. Ini dia sebutkan lewat akun Facebook miliknya. Di Instagram, saya menemukan beberapa akun menggunakan nama dan foto Maimon. Ada 1 akun yang dikunci, bisa jadi ini adalah akun yang hilang itu.

Kemudian, ternyata beberapa bulan lalu Maimon pernah membuat petisi terhadap grup penyanyi Korea Selatan lainnya, SNSD. Tapi petisi ini salah arah dan sasaran. Dia menolak penampilan SNSD, karena dia kira akan tampil di acara peringatan HUT Kemerdekaan RI. Padahal SNSD itu diundang buat acara Countdown Asian Games 2018. Petisi ini tidak viral dan tidak sukses. Sedangkan fakta kelima yang diungkap tribunnews.com, bahwa Maimon mengaku tidak punya TV di rumah. Ini dia ungkap sendiri lewat akun Facebook miliknya.
Dalam benak saya ada celetukan, mungkin karena dia nggak punya TV, jadi dia pun nggak tahu bahwa SNSD itu diundang buat acara Countdown Asian Games 2018. Bukannya buat peringatan HUT Kemerdekaan RI. Ibu Maimon ini jadinya kuper, walaupun dia seorang dosen. Dari sini saja sudah kelihatan sebenarnya, kenapa petisi stop iklan Blackpink menjadi tidak proporsional.
Di dalam petisi ditulis bahwa yang dipermasalahkan adalah iklan ditayangkan pada jam pemutaran film anak-anak. Lalu disebut juga, “Di mana letak perlindungan KPI pada generasi penerus bangsa?” Lalu kenapa iklan Shopee Blackpink yang minta distop penayangannya? Bukan kah yang diprotes harusnya adalah stasiun televisi yang menayangkan dan mengatur jam tayang iklan tersebut? Saya sih paham poin keberatan dari Maimon Herawati. Bahwa Blackpink dianggap berpakaian minim jadi tidak pantas dilihat oleh anak-anak. Sementara pihak Shopee sendiri sudah menyatakan bahwa iklan ini sudah lolos sensor. Jadi kalau iklan ini ditayangkan di jam penonton dewasa, misalnya seperti iklan rokok yang hanya bisa tayang malam-malam, tidak ada yang salah kan dengan iklan Blackpink ini?
Di lain pihak, Maimon juga mempertanyakan KPI. Kenapa bukan KPI saja yang diboikot? Karena yang bertugas mengawasi tayangan di televisi kan memang tugasnya KPI. Maimon sendiri memprotes KPI. Kenapa iklan Blackpink yang nampak jadi sasaran? Sementara iklan krim pemutih dan pelembab juga menayangkan perempuan-perempuan yang membuka auratnya. Lihat saja di televisi, banyak kok iklannya. Tapi sayangnya ibu Maimon ini masalahnya kan tidak punya tv. Sehingga dia pun hanya terfokus sama iklan Blackpink yang dipermasalahkan oleh temannya. Dia sendiri tidak benar-benar mantengin melihat televisi sehari semalam. Jadi nggak tahu iklan-iklan lain selain Blackpink.
Sekali lagi, gara-gara nggak punya televisi, penggagas petisi ini jadi nampak kuper. Dia pun tidak pernah menonton sinetron-sinetron konyol di tv yang isinya saingan, sikut-sikutan, cinta-cintaan dan balap-balapan itu lho. Seperti yang saya sebut di atas, dia tidak punya pembanding iklan lain, selain iklan Blackpink. Kalau saya pribadi, soal tutup-tutupan aurat sih, lebih parah iklan krim pemutih dan pelembab itu, karena bintangnya orang Indonesia. Sementara kalau penonton televisi yang pintar dan bijak, akan melihat grup Blackpink sebagai orang luar yang punya kebudayaan berbeda dengan Indonesia, sehingga tidak akan terpengaruh dengan cara berpakaian mereka.
Karena petisi ini tidak proposional, jadi lah banyak protes yang ditujukan kepada Maimon menjadi tidak proporsional juga. Bahkan dilansir tribunnews.com, ada beberapa petisi tandingan yang dialamatkan langsung kepada Maimon. Salah satunya berjudul “Usir Maimon Herawati dari Indonesia”, yang sudah ditandatangani oleh 14 ribu lebih orang.
Urusan iklan Blackpink jadi berkembang ke urusan perpecahan bangsa. Dan banyak komentar yang terbilang kasar sekali dari para netizen terhadap Maimon. Padahal, seandainya petisi itu dibuat proporsional dengan didasari pengetahuan dan informasi yang cukup tentang tayangan iklan-iklan di televisi, maka perkembangannya tidak akan sejelek ini. Saya bingung juga, kenapa Maimon yang berprofesi sebagai dosen ini tidak mengadakan penelitian kecil-kecilan dulu, sebelum membuat petisi. Dengan demikian, poin kesalahan yang disasar oleh Maimon menjadi terarah, petisi pun akan menjadi proporsional dan tidak akan mengakibatkan para K-Pop lovers jadi panas. Kalau yang sekarang kan, apalagi dengan ditambah fakta bahwa dulunya Maimon pernah bikin petisi menolak SNSD, seakan-akan Maimon anti terhadap girl band dari Korea. Padahal enggak begitu kan maksudnya?

No comments:

Post a Comment