
Tukang parkir sering kali kita temukan. Apalagi di kota-kota besar. Hampir setiap sudut ada tukang parkir yang berjaga. Baik di kawasan perbelanjaan, hiburan, objek wisata, maupun rumah sakit.
Menjadi tukang parkir merupakan profesi yang mulia. Karena, pertama halal, dan kedua merupakan perbuatan baik, yakni menjaga kendaraan milik orang lain, sehingga si pemiliki kendaraan terhindar dari pencurian kendaraan.
Namun, ada juga tukang parkir yang arogan, seperti yang berada di Kawasan Ciracas, Jakarta Timur.
Tukang parkir dikawasan itu terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap anggota TNI (10/12).
Saat ini, kasus itu sudah ditangani oleh aparat kepolisian.
"Ya benar sudah ditangani Polsek Ciracas" ujar Kapolres Jakarta Timur, Tony Surya Putra (11/12).
Peristiwa pengroyokan berawal dari salah seorang anggota TNI Angkatan Laut, Kapten Komaruddin yang berseragam dinas selesai memperbaiki motornya di bengkel, bersama anaknya.
Ketika parkir di salah satu rumah makan, Komarudin memeriksa kembali motornya, karena merasa ada yan janggal di bagian knalpot.
“Saat memeriksa motor, salah satu anak parkir menggeser motornya tanpa sepengetahuannya sampai kepala Kapten Komaruddin terbentur motor. Sehingga menegur anak parkir tersebut," jelas Tony.
Namun, petugas parkir itu tidak terima dengan teguran Kommaruddin, sehingga terjadilah cekcok mulut, yang mengundang perhatian tukang parkir lain.
Dan terjadilah pengroyokan terhadap Komaruddin.
"Dikeroyok tukang parkir tujuh sampai sembilan orang," tutur Tony.
Tidak lama kemudian, salah seorang anggota TNI Angkatan Darat, dari kesatuan Dronkavser Paspamres, Pratu Rivonanda lewat dan menghentikan kendaraannya.
Rivonand berusaha melerai perkelahian tersebut.
Akan tetapi, ia justru ikut-ikutan menjadi korban pengeroyokan.
Kondisi perkelahian tidak seimbang ini, membuat kedua anggota TNI itu mundur menuju Barak Remaja Paspampres KPAD Cibubur.
Setelahnya, mereka kembali, melakukan pencarian pelaku pengeroyokan hingga ke pemukiman warga di Lapangan Tembak.
Saat sedang melakukan pencarian tersebut, salah seorang pelaku pengroyokan atas nama Agus Priyantara berhasil ditemukan.
Agus kemudian diamankan ke Polsek Ciracas.
"Selasa tanggal 11 Desember 2018 pukul 02.00 WIB dilaksanakan musyawarah penyelesaian permasalahan secara damai antara pihak pelaku dan keluarga dengan para korban yang dimediasi oleh Kapolsek Ciracas," ujar Tony.
Pengeroyokan terhadap anggota TNI oleh tukang parkir ini seperti gunung es, yang tampak dipermukaannya saja.
Sedangkan permasalahan yang tidak nampak justru lebih besar.
Apa sajakah itu?
1. Tidak ada tanggung jawab dari tukang parkir terhadap kendaraan yang hilang
Penulis punya teman. Yang mana, beberapa tahun yang lalu sepeda motornya hilang.
Sebelum hilang, sepeda motor teman penulis tersebut diparkirkan di kawasan pertokoan. Tempat parkir resmi. Dan dijaga oleh tukang parkir.
Hanya saja, saat memarkirkan sepeda motornya ia lupa membawa kunci kendaraannya tersebut. Hingga, ketika mau pulang, ia melihat sepeda motornya sudah tidak ada lagi.
Pasca teman penulis kehilangan sepeda motor kesayangannya, sampai sekarang tidak ada pertanggungjawaban dari si tukang parkir yang menjaga kendaraannya.
Artinya ada tidaknya tukang parkir, sama saja. Tidak ada yang menjamin kendaraan kita aman diparkirkan di tempat parkir yang ada penjagaannya.
2. Memungut tarif parkir lebih besar dari tarif sebenarnya
Ini yang bikin banyak orang dongkol, termasuk penulis sendiri.
Biasanya di setiap daerah, sudah ditentukan berapa tarif parkir. Baik sepeda motor maupun mobil.
Di daerah penulis, tarif parkir sepeda motor 1.000 rupiah. Hanya saja ketika diberi uang Rp 2 ribu, si tukang parkir seperti tidak bersalah, tidak mengembalikan kembalian uang tersebut.
Begitu juga ketika diberi uang Rp 5 ribu. Sebagian tukang parkir mengembalikan uang Rp 3000, seola-olah lupa kalau tarip parkir motor itu 1.000 rupiah.
Untuk itu, penting bagi kita menyiapkan uang receh. Agar bisa bayar parkir pas-pasan. Sehingga uang kita tidak dikorupsikan oleh si tukang parkir.
Baru jadi tukang parkir saja sudah korupsi, apalagi kalau jadi ketua DPR. Pasti korupsinya lebih besar dari Setya Novanto.
3. Maraknya tukang parkir liar
Tukang parkir terdiri dari dua jenis. Ada yang resmi, yakni sudah mendaftarkan diri ke pemerintah setempat.
Dan tukang parkir yang resmi biasanya memakai rompi khusus, serta memiliki karcis parkir.
Selain itu, sebagian dari penghasilan mereka masuk ke kas daerah. Sehingga berkontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
Yang banyak dikeluhkan ini, jenis tukang parkir yang kedua, yakni tukang parkir liar.
Tukang parkir jenis ini biasanya banyak ditemukan di tempat-tempat wisata dan di pasar-pasar yang parkirnya belum dikelola dengan baik oleh pemerintah. Sehingga mereka kadang buka lapak parkir sendiri.
Dan uang hasil parkir, semuanya masuk ke kantong pribadi. Tidak ada yang masuk ke kas daerah atau negara.
Demikian beberapa permasalahan perparkiran yang pernah penulis temui di lapangan.
Permasalahan parkir ini sebenarnya juga menyangkut becus tidaknya kepala daerah bekerja. Karena mereka yang jadi tukang parkir liar ini biasanya preman.
Jika preman dibiarkan berkeliaran, maka sudah dipastikan parkir liar juga akan menjamur bak cawan di musim hujan, serta pengeroyokan terhadap masyarakat akan bertambah.
Anggota TNI saja berani mereka keroyok, apa lagi masyarakat sipil.
Semoga pengelolaann parkir yang kacau-balau ini kedepannya bisa segera diperbaiki oleh pemerintah. Sehingga premanisme di dunia perparkiran tidak ada lagi.
Dan cerita Anies tidak bisa berbuat banyak (tidak becus bekerja) menanggulangi maraknya aksi premanisme di DKI Jakarta juga tidak ada lagi.
Sumber :
- Image : https://vidioviral.com
No comments:
Post a Comment