
Debat capres ke-4 Sabtu lalu menjadikan militer Indonesia menjadi sorotan. Walaupun negara ini tidak sedang berperang dan jarang terlibat konflik bersenjata, kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bisa diremehkan. Berikut peringkat militer Indonesia di Asia dan dunia.
Dalam debat pilpres ke-4 hari Sabtu (30/3) yang bertemakan ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional, capres petahana Joko “Jokowi” Widodo sempat adu argumen dengan lawannya, capres oposisi Prabowo Subianto mengenai sistem pertahanan Indonesia. Prabowo meragukan kekuatan pertahanan Republik Indonesia yang dianggapnya lemah, salah satunya karena anggaran yang menurutnya terbatas.
Faktanya, sistem pertahanan militer Indonesia terbukti unggul hingga diakui di Asia bahkan dunia. Sejarah panjang peperangan di Asia menyoroti banyak kekuatan militer terkemuka. Global Fire Power, salah satu lembaga survei yang menyusun peringkat kekuatan militer, menyajikan data-data perbandingan negara-negara di dunia dalam The Global Firepower Military Strength Index.
Tahun 2019, Indonesia berada di peringkat 15 dari 137 daftar negara dunia untuk peringkat tahunan GFP. Peringkat tersebut diterjemahkan ke dalam nilai peringkat PwrIndx 0,2804, dengan 0,0000 merupakan nilai sempurna. Dalam Global Fire Power, setiap negara akan dinilai berdasarkan kekuataan individual maupun kolektif untuk menghasilkan nilai PwrIndx yang digunakan untuk menetapkan peringkat negara tersebut setiap tahunnya.
Dari 50 negara Asia yang terdaftar, Indonesia bertengger di sepuluh besar teratas, tepatnya di peringkat 8. Meski dikalahkan oleh negara-negara berkekuatan militer terbaik di Asia mulai dari Rusia, China, India, Jepang, Korea Selatan, Turki, hingga Iran, militer Indonesia terbukti mampu unggul dari negara-negara kuat lainnya seperti Israel, Korea Utara, Arab Saudi, hingga Singapura dan Qatar.
Pasukan penjaga perdamaian PBB di Indonesia berpawai selama upacara untuk memperingati ulang tahun militer ke-65 di sebuah pangkalan di Jakarta, 5 Oktober 2010. (Foto: Reuters)
Dengan total populasi 262.787.403 jiwa, kekuatan sumber daya manusia yang tersedia di Indonesia untuk melayani di militer ialah sebesar 130.868.127 orang, dengan 108.620.545 orang yang memenuhi standar untuk bertugas. Perbandingan tersebut menegaskan bahwa kita tidak seharusnya meremehkan kekuatan pertahanan militer Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang meliputi tentara Angkatan Darat (TNI-AD), Angkatan Laut (TNI-AL) dan Angkatan Udara (TNI-AU).
Laporan GlobalFirepower.com menyebutkan perkiraan total personel militer di Indonesia sebanyak 800.000 orang, dengan 400 ribu personel aktif dan 400 ribu personel cadangan. Sementara tugas utama TNI adalah membela negara, TNI juga melakukan tugas-tugas non-militer lainnya seperti menyediakan tim penyelamat dalam peristiwa bencana alam, menjadi pasukan penjaga perdamaian di zona konflik, dan bahkan berkontribusi sebagai guru di wilayah perbatasan.
Total kekuatan pesawat yang dikerahkan oleh militer Indonesia, meliputi pesawat bersayap tetap dan pesawat bersayap rotor, ialah sejumlah 451, dengan menduduki peringkat 30 dari 137 negara. Di antara daftar 137 negara tersebut, pesawat tempur Indonesia berada di posisi 43 dengan skor 41 dan pesawat serangan di posisi 37 dengan skor 65. Untuk urusan transportasi, 62 pesawat Indonesia melayani dengan performa yang cukup unggul, yakni peringkat 11 dari 137.
Peringkat yang tak jauh berbeda, yakni 29 dari 137, ditunjukkan oleh pesawat pelatihan yang menghasilkan skor 104. Sementara itu, helikopter serangan Indonesia berada di peringkat 36 dari 137, dengan skor 8. Keseluruhan kekuatan helikopter milik militer Indonesia menunjukkan peringkat 24 dari 137, dengan skor 192.
Situs yang sama melaporkan bahwa anggaran militer Indonesia mencapai US$6,9 miliar per tahun, dengan peringkat 30 dari 133 negara. Tak hanya diperlengkapi dengan baik di udara, kekuatan pertahanan darat militer Indonesia juga dipersenjatai dengan maksimal, meliputi 315 tank tempur, 1.300 kendaraan tempur lapis baja, 141 artileri, dan 36 peluncur roket.
Helikopter Angkatan Laut di kapal Indonesia dekat Kepulauan Mentawai di lepas pantai Sumatra Barat, selama latihan Komodo multinasional pada tahun 2016. (Foto: Reuters)
Sebagai negara kepulauan seluas 1.904.569 kilometer persegi dan garis pantai sepanjang 54.716 kilometer, Indonesia juga diperkuat oleh angkatan laut berjumlah total 221 aset. Daftar rincian aset yang dimiliki oleh TNI-AL untuk bersiap mempertahankan badan air seluas 21.579 kilometer persegi. adalah 8 kapal fregat, 24 kapal korvet, 5 kapal selam, 139 kapal patrol, dan 11 kapal penyapu ranjau.
Sementara itu, TNI-AD juga telah meraih berbagai prestasi penting secara internasional. Salah satu prestasi terbaru TNI-AD termasuk menjadi juara umum dalam kompetisi menembak internasional yang diselenggarakan oleh Australian Army of Skills Arms at Meeting (AASAM). Tentara Indonesia memperoleh 28 medali emas, 6 perak, dan 5 perunggu pada kompetisi bulan Mei 2017, menurut laporan Sindonews. Tentara Indonesia juga merupakan juara lama kompetisi menembak yang diselenggarakan oleh AASAM sejak tahun 2008. Dalam kompetisi ini, para tentara akan secara teratur menggunakan senjata yang dibuat oleh PT. Pindad, perusahaan kendaraan lapis baja Indonesia.
TNI tidak hanya dilengkapi dengan peralatan militer yang canggih, tetapi juga berusaha untuk terus melatih para personelnya dalam mencapai kemampuan militer yang tinggi. Kopassus merupakan Pasukan Khusus tentara Indonesia yang dilatih untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tinggi dan ekstrem.
Personel Kopassus saat latihan baris-berbaris. (Sumber: kasamago.wordpress.com)
Dalam salah satu pelatihan ekstrem, para personelnya dilaporkan harus merangkak dan berkamuflase di genangan lumpur, sembari dihujani peluru sungguhan. Personel Kopassus, yang menjadi anggota unit militer khusus harus dapat melakukan misi militer khusus yang memerlukan respons cepat terhadap pasukan musuh. Tahun 2008, Discovery Channel Military dilaporkan menempatkan Kopassus sebagai kekuatan elit terkuat ketiga di dunia.
Kopassus, singkatan dari Komando Pasukan Khusus, dibentuk sebagai pasukan khusus Indonesia tahun 1952. Kopassus melakukan banyak operasi dan misi khusus seperti aksi langsung, perang non-konvensional, kontra-pemberontakan, kontra-terorisme, pengumpulan intelijen, dan sabotase. Salah satu operasi terkenal Kopassus terjadi tahun 1981, ketika kelompok ekstremis Islam membajak pesawat Garuda penerbangan 206. Setelah pesawat mendarat, komando Kopassus melaksanakan operasi cepat, menewaskan tiga pembajak, dan membebaskan 50 penumpang.
Dengan sederet aset hingga prestasi yang dikantongi tentara Indonesia, masyarakat Indonesia dapat sepenuhnya yakin bahwa pertahanan militer Indonesia cukup kuat untuk membela negara.



No comments:
Post a Comment