
Kerusuhan 22 Mei kemarin telah menyebabkan delapan orang tewas dan 730 lainnya luka-luka. Presiden Indonesia Jokowi pun dalam konferensi pers menyatakan bahwa aparat keamanan akan menindak tegas para perusuh. Sebanyak 257 tersangka telah diamankan. Para perusuh itu diketahui berbeda dari massa yang melakukan unjuk rasa damai, dan beberapa di antaranya mengaku dibayar untuk memprovokasi.
Oleh: Ahmad Syamsudin (Eurasia Review)
Presiden Indonesia yang baru terpilih kembali, Joko “Jokowi” Widodo, menjanjikan tindakan tegas terhadap para perusuh pada kerusuhan 22 Mei kemarin, setelah delapan orang tewas dan 730 lainnya cedera dalam bentrokan di Jakarta, antara polisi dan para pendukung penantang yang kalah Prabowo Subianto.
Pihak berwenang menangkap 257 tersangka, setelah polisi anti-huru-hara melemparkan gas air mata dan menembakkan meriam air untuk membubarkan demonstran di luar gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta Pusat, kata para pejabat.
Setelah itu, pemerintah memberlakukan pembatasan pada media sosial untuk mencegah penyebaran berita palsu, Menteri Keamanan Wiranto mengatakan kepada para wartawan.
“Saya terbuka untuk bekerja sama dengan siapa pun demi kemajuan bangsa kita, tetapi saya tidak akan mentoleransi mereka yang berusaha untuk merusak keamanan, proses demokrasi, dan persatuan bangsa kita yang tercinta,” kata Jokowi dalam konferensi pers.
“Tidak ada tempat bagi perusuh yang merusak negara kita. Militer dan polisi akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan hukum,” katanya, seraya menambahkan bahwa pihak berwenang telah menempatkan situasi yang tidak stabil di bawah kendali.
Prabowo—seorang pensiunan jenderal militer—pada Rabu (22/5) mendesak para pendukungnya untuk memprotes secara damai, mengulangi pesannya sehari sebelumnya kepada mereka yang berdemonstrasi menentang hasil resmi Pilpres 2019 yang diumumkan pada Selasa (21/5).
“Saya meminta semua pihak, warga yang memprotes, polisi, dan militer untuk menahan diri dari terlibat dalam kekerasan fisik, dan para pemimpin agama dan netizen dari terlibat dalam provokasi verbal,” katanya kepada para wartawan.
Puluhan kendaraan dibakar di beberapa lingkungan di Jakarta Pusat seiring para pengunjuk rasa—yang menuduh bahwa kecurangan yang meluas terjadi dalam Pilpres 2019—melemparkan bom api pembakar yang dikenal sebagai bom molotov untuk merespons petugas polisi.
“Kekerasan dalam semalam telah merusak reputasi negara kita dan tidak boleh terjadi lagi,” kata Prabowo.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Selasa (21/5) mengatakan bahwa Jokowi telah mengumpulkan 55,5 persen suara dalam Pilpres 2019, mengalahkan penantangnya, Prabowo, untuk kedua kalinya berturut-turut. Dalam Pemilu 2014, Jokowi menerima 53,1 persen suara dan Prabowo mendapatkan 46,8 persen.
Hasil resmi pemungutan suara bulan lalu—yang diumumkan sehari lebih awal dari yang dijadwalkan, di tengah kekhawatiran adanya protes massa—hampir mirip dengan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei independen.
Prabowo telah menolak mengakui kekalahan, mengatakan kepada para wartawan pada Selasa (21/5) bahwa ia akan menantang hasil yang, menurutnya, merupakan kecurangan yang masif dan sistematis.
Pada Rabu (22/5), para pengunjuk rasa di luar Bawaslu melemparkan botol-botol air dan benda-benda ringan lainnya ke polisi anti-huru-hara, tetapi para petugas tetap berdiri tegap, kata para saksi mata.
Seorang perwira polisi Brimob membidik senjata gas air mata saat terjadi bentrokan dengan penduduk setempat di Jakarta, Indonesia, 22 Mei 2019. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)
TEMBAKAN DILEPASKAN
Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa delapan orang tewas dan 730 lainnya menderita luka-luka dalam dua hari bentrokan.
Anies mendesak warga Jakarta untuk menjalankan aktivitas mereka seperti biasa pada Rabu (22/5), dengan mengatakan bahwa kekerasan hanya terjadi di beberapa ruas jalan.
Kapolri Tito Karnavian mengatakan bahwa para korban itu tewas karena luka-luka akibat peluru dan senjata tumpul.
“Terdapat korban tewas dan kami berusaha mencari tahu apa yang terjadi,” katanya. “Dalam sepekan terakhir, kami telah menangkap sejumlah orang dengan senjata yang dimaksudkan untuk menciptakan kerusuhan.”
Tito mengatakan bahwa para perusuh itu adalah kerumunan yang berbeda dari mereka yang berunjuk rasa sebelumnya pada Selasa (21/5).
“Mereka sengaja menyerang para personel keamanan untuk memprovokasi kerusuhan,” katanya.
“Kami menangkap beberapa orang dan mereka mengaku dibayar,” katanya dalam konferensi pers.
Para perusuh juga membakar beberapa mobil di depan asrama polisi, katanya.
Polisi menangkap sedikitnya 257 demonstran setelah bentrokan tersebut, kata juru bicara Polda Metro Jaya Argo Yuwono.
“Mereka ditangkap karena mereka menyerang petugas, melakukan perusakan, dan mencoba memaksa masuk ke Bawaslu,” kata Argo.
Polisi menyita petasan, senjata tajam, panah, dan bom molotov dari para pengunjuk rasa, katanya.
Polisi tidak menggunakan peluru hidup untuk menangani protes tersebut, kata juru bicara Polri Muhammad Iqbal.
“Harus diketahui bahwa polisi tidak dilengkapi dengan peluru hidup,” kata Iqbal pada konferensi pers. “Jika ada yang menggunakan peluru hidup, mereka bukan personel keamanan polisi.”
Sementara itu, Menteri Keamanan Wiranto mengatakan bahwa pemerintah membatasi akses ke media sosial, termasuk layanan perpesanan WhatsApp, untuk mencegah penyebaran hoaks.
“Ada skenario untuk menciptakan kekacauan, menyebarkan antipati dan kebencian terhadap pemerintah,” katanya.
Beberapa pengguna WhatsApp di Indonesia mengatakan bahwa mereka dapat mengirim pesan teks dan melakukan panggilan, tetapi tidak dapat mengunggah foto atau video.
Facebook, Instagram, dan WhatsApp adalah beberapa media sosial dan layanan perpesanan yang terpengaruh, kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi.
“Pada saat ini, orang akan membagikan banyak video dan foto. Ini berbahaya,” katanya.
“Kami memprioritaskan memblokir fitur video dan foto karena—bahkan tanpa teks—video dapat memicu emosi. Beberapa orang tidak akan dapat mengunduh video atau foto,” katanya.
ANALIS: SALAH SATU KERUSUHAN TERBURUK SEJAK 1998
Kerusuhan 22 Mei adalah salah satu kerusuhan terburuk di Jakarta, sejak krisis ekonomi yang melumpuhkan pada Mei 1998 memicu kerusuhan yang meluas yang memaksa Soeharto untuk mengundurkan diri, kata Medi Kosandi, seorang analis politik di Universitas Indonesia.
“Dalam hal korban dan skalanya, hari ini jauh dari tahun 1998. Polisi siap menghadapi peristiwa semacam itu dan mereka memiliki personel yang cukup untuk mencegah kerusuhan menyebar,” katanya kepada BenarNews.
Pihak berwenang mengerahkan 40.000 polisi dan tentara untuk memberikan keamanan di Jakarta selama pengumuman hasil Pilpres 2019 pada Selasa (21/5).
Lebih dari 1.000 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi 21 tahun yang lalu di seluruh Indonesia, terutama di Medan di provinsi Sumatra Utara, di ibu kota Jakarta, dan di provinsi Jawa Tengah, menurut laporan berita.
Masalah-masalah ekonomi, termasuk kekurangan makanan dan pengangguran massal, memicu protes massa yang memicu kekerasan, kata para pejabat.
Tia Asmara di Jakarta berkontribusi untuk laporan ini.
Keterangan foto utama: Polisi anti-huru-hara berjaga saat kerusuhan di dekat kantor Bawaslu di Jakarta, 22 Mei 2019. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

No comments:
Post a Comment