
Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, dari hasil penyelidikan, ternyata 300 massa yang membuat kerusuhan aksi 22 Mei kebanyakan merupakan preman Tanah Abang yang telah dibayar.
“300 itu dari Jabar, Banten dan sisanya bener preman Tanah Abang,” ungkap Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (23/5/2019).
Para massa provokator ini diduga memang disetting untuk membuat kerusuhan.
Selain itu, para massa yang bertato itu diduga merupakan massa yang telah membakar mobil di depan asrama Brimob.
“Preman Tanah Abang itu dibayar Rp300 ribu per hari,” ungkap Dedi.
Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Eddy Purnomo meminta agar seluruh elemen masyarakat bersatu kembali pasca Pemilu 2019.
“Saya mengimbau, semua sudah selesai, pemilu itu ada perbedaan-perbedaan, tapi mari kita bersatu kembali untuk membangun bangsa ini,” tuturnya di depan Kantor Bawaslu, Kamis (23/5/2019).
Gatot menegaskan, polisi sama sekali tak melarang masyarakat menyampaikan aspirasinya di muka umum.
“Kalau menyampaikan aspirasi silakan sampaikan, tapi laksanakan dengan ketentuan-ketentuan dan aturan yang berlaku,” tekan dia.
Pihaknya juga meminta para elite politik untuk ikut menyerukan agar penyampaian pendapat bisa dilakukan dilakukan secara tertib.
“Pak Prabowo juga sudah menyampaikan dalam statementnya, penyampaian aspirasi silakan dilakukan dengan damai,” tuturnya.
“Tadi malam beliau juga sudah mengimbau supaya massa tidak datang lagi, kembali ke rumah masing-masing,” pungkas Gatot.
Untuk diketahui, Polda Metro Jaya telah menangkap 257 pelaku. Meraka telah menjadi tersangka karena diduga sengaja melakukan profokator pihak aparat dan para peserta aksi.
Para tersangka ini ditangkap di sejumlah titik lokasi aksi yang berbeda di antaranya di depan Bawaslu, Asrama Brimob, dan Petamburan.
Mereka dijerat pasal 170 KUHP jo pasal 212 KUHP jo pasal 218 KUHP dan terhadap pelaku pembakaran juga dikenakan pasal 187 KUHP.
No comments:
Post a Comment